Samstag, 31. August 2013

Ikhwah! Lihatlah Masa itu Telah Tiba ………

sumber : islamedia
Ayyuhal Ikhwah …!

Apa yang kalian rasakan hari-hari belakangan ini? Pada diri kalian dan juga da’wah yang kalian bangun? Jangan katakan ini hal biasa, sebab da’wah adalah pekerjaan luar biasa, dan para du’at juga merupakan golongan manusia luar biasa, maka goncangannya pun juga bukan hal yang biasa-biasa saja! Untuk apa? Surga! Karena surga itu mahal dan sangat indah! Maka, medan yang mesti kalian tempuh, halang rintang yang menghadang, serta musuh yang mesti kalian kalahkan, juga bukan yang biasa-biasa saja; mereka begitu banyak, ganas, buas, kuat, dan tidak pernah lelah. Namun, setelah itu justru pertolongan Allah Jalla wa ‘Ala begitu dekat. Semua tipu daya mereka dan kekuatannya bukanlah apa-apa bagi Allah yang Maha Gagah dan Maha Perkasa (Qawwiyun ‘Aziz).

Sungguh, kalian bukan orang pertama yang merasakannya … maka tersenyumlah dan berbahagialah, sebab kumpulan orang-orang mulia dan besar telah menanti kalian untuk bersatu dalam barisan mereka. Bukankah ini sebuah kemuliaan bagi kalian?

Lihatlah Rabb kalian telah menceritakan ………
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214)

Ayyulah Ikhwah ….!

Sungguh hari yang dijanjikanNya telah datang …, hari di mana kalian sendiri dan sedikit manusia yang mau mengerti kalian dan menjadi pembela kalian. Sungguh Islam yang kalian bawa membuat kalian menjadi ghurabaa, bahkan di hadapan umat Islam sendiri. Di segala arah dan penjuru, berbagai entitas dan kekuatan tengah menghadang laju, dan melumpuhkan gerak kalian. Segenap bentuk fitnah, dusta, kebencian, dendam, dan amarah bersekutu menjadi satu, dengan tujuan yang sama; lenyapnya kalian.

Namun percayalah, kalian tidak akan lenyap –dengan izin Allah- justru peristiwa itu menambah  iman dan ketundukan kalian kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Bacalah firmanNya ini:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. Al Ahzab: 22)

Ayyulah Ikhwah …!

Inilah zaman itu .., inilah masanya … zaman dan masa di mana yang dusta dipercaya, yang benar didusakan, pengkhianat diberi amanah, dan yang amanah malah dikhianati.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ

Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kedustaan, saat itu pendusta dipercaya, sedangkan orang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang amanah justru dikhianati, dan saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya: “Apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh  namun dia membicarakan urusan orang banyak.” (HR. Ibnu Majah No. 4036, Ahmad   No. 7912,  Al Bazzar No. 2740 , Ath Thabarani dalam Musnad Asy Syamiyyin No. 47,    Al Hakim dalam Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 8439, dengan lafaz: “Ar Rajulut Taafih yatakallamu fi Amril ‘aammah – Seorang laki-laki bodoh yang membicarakan urusan orang banyak.”  Imam Al Hakim mengatakan: “Isnadnya shahih tapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Imam Adz Dzahabi juga menshahihkan dalam At Talkhis-nya)

Inilah zaman itu, zaman di mana manusia selalu membicarakan dan menyampaikan apa yang di dengarnya, tak peduli benar atau salah, fakta atau dusta, dan perilaku itu cukuplah  disebut sebagai pendusta.  Dengarkanlah nasihat dari lisan yang paling mulia
كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع
Cukuplah seseorang disebut berdusta jika selalu menceritakan apa-apa yang didengarkannya. (HR. Muslim No. 5) 

Duh .. media dan wartawan, pernahkah engkau membaca hadits ini?

Wahai  ikhwah ..!

Apa yang kalian sedihkan? Apa yang kalian keluhkan terhadap mereka?  Jika kalian tidak memiliki media, TV, koran,  majalah, dan berita online,     untuk  melawan gelombang kekejian ahlul fitnah, maka kalian  masih memiliki iman untuk bisa membedakan mana kebohongan dan mana kejujuran, mana kebenaran dan mana kebatilan. Kalian masih memiliki ukhuwah yang menjadi benteng kokoh untuk menghadang mereka. Kalian masih memiliki banyak ladang amal shalih untuk menggapai khairunnaas anfa’hum lin naas….

Katakan kepada mereka, “Turunkan semua media yang kalian punya, panggilah investor-investor kalian, dan gelontorkan semua dana yang kalian miliki untuk tujuan kalian itu ..........., tetapi itu semua kecil dan bukan apa-apa bagi kami -Insya Allah, sebab kami terbiasa berjuang dalam keadaan sudah dan kekurangan, walaupun untuk menghadapi lawan dan pendengki  yang lebih besar dari kalian  ..., sebab kami selalu bersandar kepada Allah Yang Maha Besar!”

Ikhwah … hari ini, kalian begitu berharga ….

Di saat kalian tidur, makan, shalat, tilawah, menghadiri halaqah-halaqah tarbawiyah dan ta’limiyah dan sebagainya  … justru mereka sibuk mencari-cari kesalahan kalian, mereka lelah, sakit,  takut, dan sempit dada, karena menghabiskan waktu dengan tujuan menjatuhkan kalian … perhatian mereka yang begitu besar untuk melukai kalian adalah bukti betapa besar perhatian mereka terhadap kalian. Bukankah ini juga sebuah kemuliaan? Kalian begitu berharga bagi mereka sehingga mereka tidak mau kehilangan momen untuk menjatuhkan  kalian, dari dekat atau jauh. Kalian sakit dan lelah? Mereka juga merasakannya! Maka, jangan lemah ketika menghadapi mereka, karena  kalian masih mending sebab masih ada Allah Ta’ala menjadi tumpuan harapan ….

Allah Ta’ala menasihati kita semua …
وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
 Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). jika kamu menderita kesakitan, Maka Sesungguhnya merekapun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu menderitanya, sedang kamu mengharap kepada Allah apa yang tidak mereka harapkan. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa: 104).

Maka, tetaplah beriman bukan bermain …  teruslah belajar bukan menghajar …. teruslah bekerja untuk manusia walau dikerjain orang lain … jadilah seperti pohon, walau manusia menimpukinya dengan batu tapi pohon tersebut membalas mereka dengan buah-buahan segar  .. Jadikanlah Allah Ta’ala sebagai tempat berbagi kalian, sebelum selainNya …

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah wa Lirasulihi wal mu’minin ……..


Abu Abdillah Ad Dibuuki


Sonntag, 25. August 2013

Pengkhianatan atas Umat Islam, akan Terjadi Sepanjang Zaman

 sumber : eramuslim
 sisian
Hari itu, hari Jum’at. Seharusnya menjadi hari yang baik bagi muslimin. Tepatnya tanggal 7 Shafar 656 H. Kota Baghdad, pusat peradaban dunia terbesar masa itu. Ibukota Khilafah Abbasiyyah yang telah 5 abad memakmurkan bumi ini dengan peradaban dan ilmu.

Hari Jum’at itu justru puncak kehancuran wilayah khilafah dan akhir dari keseluruhan kebesaran. Untuk selamanya. Hulaghu Khan pemimpin pasukan Mongolia hari itu datang masuk ke dalam istana Khilafah terakhir Abbasiyyah, Musta’shim billah. Dia datang beserta istrinya dan para pengawalnya. Seluruh elemen kekhilafahan telah lumpuh. Khalifah sudah menyerah. Hulaghu meminta Musta’shim menunjukkan semua simpanan kekayaan di istananya. Dengan sangat hina, Musta’shim menunjukkan semua kekayaannya dalam istana. Kemudian Hulaghu membagikan perhiasan dan kekayaan itu kepada istrinya dan para pengawal dekatnya.

Sudah satu minggu, Kota Baghdad dihancurkan dari berbagai sudutnya. Musibah kemanusiaan yang tidak mengenal satu kecap pun kata kasihan. Begitulah kekejaman pasukan Mongolia.
Tembok kota dihancurkan. Setiap yang datang dibunuh. Setiap yang menyerah pun dibunuh. Pembunuhan besar-besar itu disaksikan oleh Sungai Dijlah. 3 hari Sungai Dijlah berwarna merah darah. Juga jalanan Kota Baghdad. Banjir darah.

Anak-anak dan wanita memohon belas kasihan di bawah kuda-kuda pasukan Mongolia untuk dimaafkan dan agar tidak dibunuh, dengan al-Qur’an di tangan-tangan mereka. Tetapi kuda-kuda Mongol menginjak-injak semuanya. Diinjak-injak tanpa secuil pun rasa kasihan. Sebelum akhirnya pedang-pedang pun, mereka ayunkan kepada setiap anak dan wanita.

Mereka yang sakit terbaring di rumah sakit tidak luput merasakan kekejaman yang belum pernah disaksikan oleh kekejaman bangsa manapun. Tidak ada satupun yang selamat. Semuanya harus mengakhiri ajalnya di ujung pedang Mongolia.

Satu minggu itu, setidaknya 400.000 nyawa melayang. Termasuk khalifah Musta’shim dan seluruh anak serta kerabatnya.

Bukan hanya pembantaian muslimin. Peradaban yang dibangun berabad-abad, ilmu yang menerangi dunia juga ikut dihancurkan. Lagi-lagi Sungai Dijlah menjadi saksi bisu. Pasukan Mongolia menyeberang sungai Dijlah dengan menggunakan tumpukan buku. Kuda-kuda Mongol menginjak-injak buku-buku ilmu.

Masjid-masjid diruntuhkan. Rendah sekali syahwat Mongolia, yaitu mengambili pernik-pernik masjid yang terbuat dari emas di kubah-kubahnya. Istana-istana juga dihancurkan untuk dirampas semua kekayaan berupa harta benda dan perhiasan.
Kota dibakar. Gedung, masjid, perpustakaan, istana, rumah sakit. Kehancuran total.

Hulaghu Khan akhirnya menghentikan pembunuhan. Penghentian itu dikarenakan bau anyir darah dan bekas puing-puing penghancuran dan pembakaran menyebabkan polusi dan penyebaran wabah penyakit. Hulaghu mengkhawatirkan kesehatan pasukannya, sehingga dia memerintahkan penguburan mayat manusia dan binatang.

Dan Baghdad pun hancur lebur. Pusat kebesaran Islam itu. Ibukota Khilafah Abbasiyyah itu. Khilafah Abbasiyyah diakhiri dengan cara yang sangat mengiris-iris hati. Baghdad dihabisi dengan cara yang sangat mudah. Kebesaran itu runtuh dengan begitu sederhana. Tidak ada kota sebegitu mudah diruntuhkan, semudah Baghdad.

La haula wa quwwata illa billah…
Innalillah wa inna ilahi raji’un…

Seharusnya Baghad tidak runtuh. Semestinya Khilafah Abbasiyyah tidak hilang. Kalau tidak muncul pengkhianat besar di tubuh kekhilafahan. Kalau saja tidak ada pengkhianat umat.

Muayyaduddin Ibnul ‘Alqami. Nama pengkhianat yang hingga akhir zaman akan selalu disebut dalam sejarah Islam sebagai pengkhianat peradaban, pengkhianat umat. Ibnul ‘Alqami bukan sembarang orang. Dia adalah perdana menteri di kekhilafahan Abbasiyyah.
Sebelum pengkhianatan Ibnul ‘Alqami, sesungguhnya para amir wilayah sekitar Baghdad telah lebih dahulu menjadi pengkhianat umat. Mereka bersatu dan bersedia bahkan ada yang berangkat sendiri untuk membantu pasukan Mongolia menghancurkan muslimin sendiri.
Tetapi puncak semua pengkhianatan itu adalah tokoh terdekat dengan pusat. Di Kota Baghdad yang dikenal kuat. Ibnul ‘Alqami diam-diam membangun hubungan haram dengan Hulaghu. Pengkhianat umat itu menjual Baghdad dengan tukaran di antaranya adalah jabatan jika Hulaghu berhasil menguasai Baghdad. Rencana demi rencana jahat dilakukannya. Sementara khalifah asyik menikmati goyangan artis dan berpesta pora.
Begitulah. Dan sejarah pun mengulang dirinya. Andalus mempunyai kisah yang mirip. Karena memang sejarah selalu sama di zaman manapun.
Kota terakhir yang masih kuat berdiri saat seluruh kota-kota wilayah Andalus telah menyerah di tangan negara-negara Kristen adalah Granada. Kota itu masih sangat kuat bertahan, gagah dan terus membangun.
Tetapi akhirnya Granada pun menyerah. Khilafah Islamiyyah di Eropa selatan tutup hingga hari ini (semoga Allah memberi kita kesempatan untuk melihat kembalinya Eropa ke tangan muslimin – amin).
Dan sejarah terulang lagi. Granada runtuh karena pengkhianat peradaban ada dalam tubuh muslimin. Mereka bukan sembarang orang. Mereka adalah pemimpin muslimin, tetapi merangkap pengkhianat umat.
Tiga nama yang diabadikan sejarah hingga hari akhir nanti sebagai pengkhianat umat. Catatan itu tidak akan pernah bisa dihapus. Dua orang menteri: Yusuf bin Kamasyah dan Abul Qasim al-Malih, serta satu tokoh agama: al-Baqini.
Umat dijual. Negeri muslim digadaikan. Diserahkan kepada negara Kristen. Ditukar dengan sampah dunia.
Raja Fernando 3 dan Ratu Isabella memasang salib besar dari perak di pasang di atas Istana al-Hamra’ dan diumumkan bahwa hari itu adalah akhir dari kekuasaan muslim di Andalus.
Tahun 1499 M, masjid-masjid resmi ditutup.
Sesungguhnya ini bukan akhir dari perjalanan muslimin di Andalus. Perjuangan sekelompok mujahidin muslimin terus digelorakan, mencoba mengambil alih Granada. Perjuangan itu ada pasang surutnya.
Perjuangan itu bukan tidak ada hasilnya. Beberapa wilayah di sekitar Andalus sempat berhasil dikuasai muslimin.
Ibnu Abbu adalah pemimpin terakhir kelompok mujahidin yang terus dikejar-kejar oleh pasukan Kristen. Tetapi mereka tidak pernah berhasil menyentuh Ibnu Abbu.
Lagi, sejarah terulang. Pengkhianat internal penyebabnya. Ibnu Abbu syahid bukan di tangan pasukan Kristen. Tetapi dibunuh oleh seorang muslim yang bernama Syurais, yang anak dan istrinya ditawan oleh pasukan Kristen. Syurais dijanjikan bahwa anak istrinya akan dibebaskan jika ia berhasil membunuh Ibnu Abbu. Dan pengkhianat itupun melakukannya.
Ibnu Abbu telah syahid. Dan akhirnya semuanya terhenti. Semua perjuangan muslimin berakhir. Muslimin harus mati atau menjadi budak. Akhir seluruh perjalanan muslimin di Andalus.
Maha benar Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap Khawwan lagi Kafur.” (Qs. Al-Hajj: 38)
Khawwan adalah pengkhianat besar. Kafur adalah orang dengan kekafiran besar atau pengingkar nikmat.

Setidaknya ada 2 pelajaran besar dari ayat agung tersebut:
1. Hanya Allah yang menjaga jamaah orang-orang beriman. Bukti penjagaan Allah, dengan tidak menyelinapnya khawwan dan kafur. Jika telah hadir dua kelompok tersebut, berarti jamaah mukminin tersebut sudah ditinggal Allah. Sekaligus bukti bahwa Allah sudah tidak ridha, sehingga tidak lagi ada penjagaan-Nya.
2. Khawwan lebih dahulu disebut sebelum kafur. Dan selalu begitu. Para pengkhianat selalu menjadi mukaddimah untuk kehancuran jamaah orang-orang beriman yang berakhir di tangan orang-orang kafir.

Ibnul ‘Alqami, Yusuf bin Kamasyah, Abul Qasim al-Malih, al-Baqini, Syurais. Nama-nama para pengkhianat peradaban.

Nama-nama yang berbeda akan terus bermunculan sepanjang zaman. Hingga hari ini. Di tubuh muslimin. Para tokohnya…

Sebagai pengkhianat peradaban! Sebagai pengkhianat umat!
فاعتبروا يا أولى الأبصار
Dan kini… Semua pun mengetahui siapa mereka… kejadian tragedi Suriah, kerusuhan Mesir , menunjukkan hal itu dengan terang berderang…

Freitag, 23. August 2013

Ulama Digantikan oleh Para Pemimpin Yang Bodoh

sumber : eramuslim
azzam
Hadits berikut ini menyebutkan bahwa selama masa-masa terakhir dunia, urusan masyarakat muslim akan jatuh ke tangan orang-orang yang benar-benar bodoh dan tidak mempunyai pemahaman tentang agama Islam.
Abd Allah Ibn ‘Amr Ibn Al-‘Ash meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda :
Allah tidak akan mencabut pengetahuan dari hati para ulama, tetapi dia akan memaafkan mereka (mereka meninggal). Tidak ada lagi ulama yang menggantikan mereka, sehingga orang akan mempercayakan urusannya kepada pemimpin yang sangat bodoh.  Mereka akan menghadapi berbagai persoalan, dan akan memberikan fatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan  (Shahih Bukhari, Kitab Al Ilm; Shahih Muslim hadis ke 157 Kitab Al Ilm)
Ramalan tersebut telah terbukti, karena orang-orang Islam dewasa ini telah mengangkat pemimpin yang hanya tahu kulit luar Islam, tetapi tidak mengerti praktik dan inti Islam. Misalnya, sering kali seorang pengusaha, dokter atau insinyur diangkat menjadi imam mesjid. Para profesional itu tidak mempunyai latar belakang pendidikan Ushul Islam . Mereka tidak mempelajari  syariat, Al qur’an atau Hadis. Mereka tidak tahu bagaimna mengambil kpetutusan hukum atau bagaimana menjelaskan tema-tema tertentu dalam Islam. Jadi, sementara bekerja sepenuh waktu dalam profesinya masing-masing, mereka meletakkan tugas kepemimpinannya terhadap masyarakat muslim urutan kedua, persis seperti kerja sampingan atau hobi. Mereka memang dapat bertindak sebagai imam atau pemimpin shalat jika tidak ada orang lain yang lebih representatitf untuk melaksanakan tugas tersebut. Namun ketika orang-orang tersebut mengklaim  sebagai qa’izh (ulama , penceramah atau pemberi nasehat) mereka berarti telah memlampaui batas kewenangannya  dan dapat membawa kerusakan serius pada masyarakat muslim.
Pemimpin masyarakat muslim semacam itu akan menjadikan masjid sebagai  arena untuk memperebutkan dominasi sosial , bukan sebagai tempat untuk  meningkatkan kehidupan keagamaan dan spiritual. Hal semacam ini juga telah diramalkan oleh Nabi Saw.
Anas meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda :
“Sungguh salah satu tanda akhir zaman adalah ketika orang menyombongkan diri di masjid..” (An Nasa’i, Ahmad)
Para pemimpin yang sombong itu sebenarnya tidak layak untuk memberikan keputusan tentang persoalan keislaman secara umum dan secara khusus mereka tidak dibekali dengan pengalaman dan pengetahuan untuk menghadapi persoalan kompleks yang dihadapi oleh masyarakat muslim pada masa modern ini. Karena dibesarkan dalam lingkungan pendidikan sekuler dan sama sekali buta tentang ilmu-ilmu keislaman, mereka akan menyusupkan pandangan mereka sendiri atau bisikan ego mereka, dan mengeluarkan keputusan   yang merugikan masyarakat muslim sescara keseluruhan.  Seribu empat ratus tahun yang lalu, Nabi SAW menggambarkan para pemimpin bodoh itu yang akan dimintai pendapatnya tentang sesuatu dan akan memberikan keputusan yang keliru , mereka sesat dan menyesatkan.
Adalah penting untuk menyadari bahwa tak seorang pun akan mampu mengeluarkan aturan tanpa memiliki kualifikasi yang diperlukan, dan tak seorang pun dapat mengeluarkan keputusan tanpa kualifikasi tersebut. Karena peraturan yang dikeluarkan memiliki dampak yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat maupun pribadi, maka orang yang mengeluarkan peraturan tersebut harus memiliki akhlak yang mulia dan yang paling penting adalah bahwa mereka harus benar-benar layak.
Diriwayatkan dari salah satu faqih terbesar Abd Al Rahman Ibn Abi Layla,” Saya pernah bertemu dengan seratus dua puluh sahabat nabi. Masing-masing aku tanyai satu persoalan syariat, tetapi mereka menolak memberikan keputusan , dan malah merujuk kepada sahabat lain yang bisa memberikan jawabannya. Mereka takut memberikan jawaban yang keliru karena mereka akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah.
Imam Al Nawawi me riwayatkan bahwa  Imam al –Syubi dan Al Hasan Al Bashri serta tokoh-tokoh tabi’in lainnya berkata :
Orang-orang zaman sekarang terlalu cepat mengeluarkan aturan yang didasarkan pada analisis mereka sendiri tentang sesorang. Jika hendak  mencari  jawaban  terhadap persoalan serupa pada masa Umar ibn Al Khatab, ia akan mengumpulkan seluruh sahabatnya yang  ikut dalam perang Badar (yaitu sekitar 313 sahabat ) untuk menemukan jawabannya.
Sayangnya para pemimpin Islam dewasa ini , alih-alih menggunakan masjid sebagai tempat untuk menunjukkan kebaikan dan keselamatan jiwa manusia di akhirat kelak, mereka justru menggunakan masjid untuk membicarakan masalah duniawi  seperti politik, penghimpunan dana, atau ajakan kepada mengejar kehidupan dunia. Ini juga telah diprediksi dalam hadis lain yang menyebutkan bahwa Nabi Saw bersabda : “..Pada akhir zaman orang-orang akan datang ke masjid dan duduk membentuk lingkaran untuk mendiskusikan persoalan dunia dan kenikmatannya. Janganlah duduk bersama mereka . Allah tidak membutuhkan mereka (disebutkan oleh Al Qurthubi dalam Al jami lil-ahkama Al qur’an ketika menjelaskan surat An Nur)
Ketika ditanya tentang maksud hadis itu, Ibn Mas’ud menjawab bahwa para pemimpin yang bodoh akan berasal dari kelompok ashagir (Mereka yang tidak memiliki latar belakang pendidikan Islam, secara harfiah dikatakan’junior’)  dan bukan dari kelompok akabir  (ulama yang mencurahkan hidup mereka yntuk mempelajari Al Islam, secara harfiah berarti”senior”).   Nabi Saw mengatakan bahwa tanda akhir zaman adalah ketika sudah tidak ada lagi illmu dan ilmu akan diambil dari kekompok ashagir.
Kini  para pemimpin kita tidak terpelajar soal Islam, sehingga dalam istilah keagamaan mereka disebut “junior” meski usia mereka sudah lanjut. Lebih parah lagi ada banyak anak muda dalam kelompok internet Islam yang mengeluarkan keputusan tentang berbagai persoalan. Dalam sebuah situs islam di  internet , ada seorang anak laki-laki berusia 18 tahun bertindak bagai seorang  ulama besar yang mengeluarkan aturan dan mengatakan kepada saudara-saudara mereka seagama, Anda salah ! Anda termasuk orang kafir!’ Banyak orang membaca dan kemudian mengikuti apa yang ditulis oleh anak-anak muda itu. Seperti apa yang dikatakan Nabi mereka ‘sesat dan menyesatkan’ 

Donnerstag, 22. August 2013

If You Are…

If you are rich, follow the merchant of Makkah.
If you are poor, look at the prisoner of the Shi’abe Abi Taalib.
If you are a king, study the life of the ruler of Arabia.
If you are a subject, look at the Quraishi.
If you are a conqueror, look at the conqueror of Badr, Hunayn & Makkah.
If you are defeated, take lesson from the battle of Uhud.
If you are a teacher, look at the holy teacher in the school of Suffah.
If you are a pupil, look at him, who sat before Jibra’eel (A.S.).
If you are a preacher of the gospel of truth, look at the prophet of Makkah.
If you are successful, watch him preach on the pulpit of Madinah.
If you are wishing to be a prosperous business man, look at him who owned the lands of Bani Nazeer, Khaybar and Fadak.
If you are an orphan, do not forget the child of Abdullah and Aaminah.
If you are a young man read the life of Makkah’s shepherd.
If you are a husband, do not forget the husband of hadrat Khadija and Aisha (R.A.).
If you are a father, watch the father of hadrat Faatima (R.A.) and the grand father of Hasan (R.A.) and Hussain (R.A.).
In short whatever you might be, unto the blessed Prophet ﷺ is your guidance.


sumber : islamicthinking

Sebuah pesan untuk para Pemuda

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata :

Hai pemuda…! Nasihatilah dirimu sendiri terlebih dahulu sebelum kamu menasihati orang lain. Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam menasihati orang lain sedangkan dalam dirimu sendiri masih bersemayam sesuatu yang engkau perlu perbaiki.
Celakalah engkau…! Sekiranya engkau tahu bagaimana membersihkan orang lain, sedangkan engkau buta untuk membersihkan dirimu sendiri. Bagaimana seorang yang buta dapat memimpin orang lain.

Montag, 19. August 2013

Para Pemimpin yang Sebaiknya Ditolak

 sumber : eramuslim

Di antara Nubuwwah (prediksi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam) ialah persoalan para pemimpin yang sebaiknya ditolak. Dalam hadits tersebut digambarkan bahwa suatu ketika di masa yang akan datang bakal muncul para pemimpin yang dikenal di tengah masyarakat namun tidak disetujui karena sikap dan perilakunya yang zalim dan fasiq. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberi tahu kita bagaimana sikap yang semestinya ditegakkan bila para pemimpin seperti itu muncul. Untuk lebih jelasnya inilah tex hadits itu secara lengkap:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ
فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ
وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya. Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa).” Mereka bertanya: ”Apakah kami perangi mereka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Tidak, selagi mereka masih sholat.” (HR Muslim 3445)
Dengan jelas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa orang yang membenci para pemimpin yang zalim dan fasiq itu akan terbebaskan dari tanggungan dosa. Orang yang tidak menyetujui mereka akan selamat. Berarti hadits ini menegaskan sikap yang semestinya dimiliki seorang mukmin ketika berhadapan dengan pemimpin yang memiliki penyimpangan akhlak. Berbeda sekali dengan anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa di dalam ajaran Islam bagaimanapun perilaku seorang pemimpin ummat harus tetap mematuhinya dan menganggapnya sebagai ulil amri minkum (pemegang urusan di kalangan orang-orang beriman). Hadits ini jelas membantah anggapan naif tersebut.
Lalu dengan tegas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan mereka yang rela dan mematuhi para pemimpin zalim dan fasiq itu. Beliau mengatakan bahwa ”Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa).” Di sinilah ajaran Islam memandang bahwa urusan menyerahkan loyalitas dan kepatuhan bukanlah perkara ringan. Sebab tidak saja si pemimpin berdosa karena kezaliman dan kefasikannya. Tetapi rakyat ikut menanggung dosa juga bila mereka tetap rela atas kezaliman dan kefasikan pemimpin tersebut, apalagi kemudian mematuhinya. Sehingga Allah melarang seorang beriman untuk mentaati siapapun dan apapun tanpa ilmu dan kesadaran akan mana yang benar dan mana yang batil.
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa 36)
Namun suatu hal yang memang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam juga anjurkan ialah agar ummat jangan berfikiran untuk memeranginya selagi si pemimpin tersebut masih sholat. Menarik untuk diperhatikan ialah pandangan Imam Nawawi mengomentari potongan hadits ini ”Apakah kami perangi mereka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Tidak, selagi mereka masih sholat.” Beliau menulis sebagai berikut:
وَأَمَّا قَوْله : ( أَفَلَا نُقَاتِلهُمْ ؟ قَالَ : لَا ، مَا صَلَّوْا )
فَفِيهِ مَعْنَى مَا سَبَقَ أَنَّهُ لَا يَجُوز الْخُرُوج عَلَى الْخُلَفَاء
بِمُجَرَّدِ الظُّلْم أَوْ الْفِسْق مَا لَمْ يُغَيِّرُوا شَيْئًا مِنْ قَوَاعِد الْإِسْلَام .
Maknanya ialah tidak dibenarkan keluar dari kepemimpinan khilafah hanya semata berdasarkan kezaliman dan kefasiqan selama para pemimpin itu tidak merubah sesauatupun dari kaedah-kaedah Al-Islam.
Ulama salaf ini dengan jelas sekali menggaris-bawahi bahwa selagi pemimpin masih menegakkan secara formal sistem kekhalifahan dan tidak merubah sesuatupun dari kaedah kaedah ajaran Al-Islam, maka tidak dibenarkan bagi seorang mukmin meninggalkan atau keluar dari kepemimpinan tersebut, walaupun akhlaq pemimpinnya zalim dan fasiq.

Saudaraku, permasalahan kita ummat Islam dewasa ini adalah bahwa bukan saja negeri-negeri Islam dipimpin oleh sebagian besar pemimpin yang berkepribadian zalim dan fasiq, tetapi sudah jelas mereka tidak menegakkan sistem kekhalifahan dan bahkan nyata benar bahwa kaedah-kaedah Islam telah banyak yang dirubah, baik oleh sang pemimpin tertinggi maupun oleh kepemimpinan kolektif kolaborasi lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Untuk membuktikan kebenaran sinyalemen di atas tidaklah sulit. Karena dalam realitas keseharian terlalu banyak contoh kasus yang membenarkannya daripada membantahnya. Sungguh benarlah kita dewasa ini sedang menjalani masa fitnah sebagaimana telah disinyalir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.
بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي
كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi masih mukmin dan diwaktu sore telah kafir, dan diwaktu sore masih beriman dan paginya sudah menjadi kafir, ia menjual agamanya demi kesenangan dunia.“(HR Ahmad 8493)
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS Al-Baqarah 250)

Jangan Membela Orang Fasik Dan Menghujat Orang Sholeh

sumber: eramuslim
 
Orang bilang bahwa media modern sekuler memiliki motto “bad news is good news”. Artinya setiap kejadian buruk malah menjadi sumber penghasilan.
Oleh karenanya media bermotto seperti itu sangat rajin mengumpulkan dan menyebarluaskan berbagai kejadian yang mengandung kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, intrik, konflik dan kriminalitas.
Semakin heboh suatu kejadian semakin bersemangat para kuli tinta sekuler memburunya. Itulah realitas berbagai media yang sejatinya berkarakter “modern sekuler”. Dia tidak peduli jika berita yang disebarluaskan melanggar akhlak ajaran Allah سبحانه و تعالى Al-Islam.
Ia hanya mengutamakan bagaimana caranya agar tiras atau ratingnya tinggi di mata para pembaca, pendengar atau pemirsanya. Semakin tinggi tiras, maka semakin besar income yang dihasilkan. Inilah realita dunia media-massa pada umumnya di zaman penuh fitnah dewasa ini.
Sampai di sini sesungguhnya masalah yang timbul sudah cukup parah. Sebab keadaan ini menjadikan masyarakat setiap hari harus mendengar, menyaksikan dan mengunyah-ngunyah berbagai berita buruk yang sudah barang tentu mempengaruhi otak dan hatinya. Dan akibat selanjutnya masyarakat cenderung mengalami de-sensitisasi (penurunan kehalusan perasaan/penginderaan) terhadap berbagai perilaku kemaksiatan, perbuatan keji, permusuhan, intrik, konflik dan kriminalitas yang diberitakan media-massa.
Artinya masyarakat kian hari menjadi kian terbiasa dengan berbagai keburukan tersebut sehingga menjadi toleran terhadap semua hal keji itu. Akibat puncaknya hilanglah ghirah (kecemburuan) di dalam diri dan akhirnya spirit amar ma’ruf nahi munkar (menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran) menjadi pupus kalau tidak bisa dibilang mati sama sekali.
Sulit menemukan media dewasa ini yang berfungsi sebagai pelita di tengah kegelapan zaman penuh fitnah. Media yang menyebabkan manusia menjadi ingat dan tunduk-merendah kepada sang Pencipta Alam Raya, Allah سبحانه و تعالى . Yang menyebarluaskan optimisme akan masa depan cerah kebangkitan kembali dienullah Al-Islam. Yang meyakinkan masyarakat bahwa hanya dengan kembali kepada Al-Islam sajalah dunia akan menemukan keadilan, kedamaian dan kesejahteraan hakiki. Yang tidak ikut terkotak ke dalam fanatisme kelompok, golongan maupun partai alias media partisan. Yang senantiasa mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan dunia bersifat fana dan bakal sirna, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan sejati dan abadi. Yang meyakinkan ummat bahwa sepahit apapun penderitaan dunia, sesungguhnya ia tidak setara dan tidak patut disejajarkan dengan kesengsaraan hakiki Murka dan Neraka Allah di akhirat kelak nanti. Yang terus-menerus menyadarkan masyarakat bahwa senikmat apapun kesenangan dunia, namun ia tidak pantas diburu dan dikejar sebagaimana seharusnya berkompetisi memburu kebahagiaan hakiki dan lestari Ridho dan Jannah Allah di akhirat kelak. Yang menyemangati setiap orang beriman agar selalu memperjuangkan ihdal-husnayain (satu dari dua kebaikan), yakni isy kariiman (hidup mulia di bawah naungan Syariat Allah) atau mut syahiidan (mati syahid).
Sampai di sini sesungguhnya masalah yang timbul sudah cukup parah. Tetapi masalahnya tidak cuma itu. Sudahlah media yang beredar umumnya sekuler lalu ditambah lagi dengan realitas pahit bahwa masyarakat yang menikmati media seperti itu umumnya merupakan masyarakat yang mudah terprovokasi.
Masyarakat penikmat media sekuler tadi sangat mudah dipancing emosinya untuk berreaksi yang sungguh jauh dari dewasa dan bertanggung-jawab, apalagi bersikap Islami…! Dalam merespon media penyebar kerusakan kebanyakan masyarakat terbelah menjadi dua. Sebagian menjadi corong yang turut menyebarkan lebih lanjut apapun berita atau info media tadi. Padahal boleh jadi sebenarnya berita yang disebarkan tidak benar alias palsu.
Sehingga kadangkala orang yang menyebarkan berita tadi tanpa sadar telah terlibat dalam menghujat orang yang sholeh semata-mata karena ia tidak suka kepada orang tersebut atau kelompok dimana orang tersebut merupakan anggota di dalamnya. Tetapi bisa juga terjadi bahwa tanpa sadar kita secara membabi-buta alias taqlid membela orang yang memang benar-benar terlibat suatu kemaksiatan semata-mata karena yang diberitakan itu adalah kawan dekat atau teman sekelompok, golongan atau partai.
Sungguh kita sedang menjalani era penuh fitnah. Masyarakat begitu mudahnya terpancing untuk harus berfihak ketika mengikuti suatu isyu yang ditebar media. Seolah hanya ada dua pilihan sikap. Menyetujui isi pemberitaan atau mengingkarinya. Padahal menyetujui seringkali berarti turut menebar fitnah, gosip dan dusta. Sebaliknya, mengingkari terkadang menyebabkan hilangnya sikap obyektif dan menyuburkan fanatisme kelompok yang bersifat irrasional. Right or wrong is my group, my organization and my party. Oleh karenanya Allah سبحانه و تعالى sangat mengharuskan seorang muslim bersikap adil dan obyektif.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ
شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ
أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. (QS An-Nisa 135)
 
Janganlah karena fihak yang memperoleh pemberitaan negatif di media adalah “orang dekat” kita maka dengan membabi-buta kita bela dia. Seolah orang dekat kita itu tidak pernah terlibat kesalahan dan dosa.
Waspadalah saudaraku, jangan sampai tanpa sadar kita malah membela dengan kacamata kuda seseorang yang sebenarnya dikategorikan Allah سبحانه و تعالى sebagai orang fasiq (jahat). Janganlah spirit keorganisasian dibiarkan berkembang menjadi virus ta’ashshub (fanatisme golongan) yang dibenci Allah سبحانه و تعالى dan Rasulullah Muhammad صلى الله عليه و سلم .
Ingat, semua kita pasti akan mempertanggung-jawabkan apapun yang telah kita sikapi, ucapkan dan perbuat.
Jangan asal membeo kepada fihak yang kita merasa sudah dekat dengannya. Padahal siapapun di dunia ini –selain Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم – bisa tergelincir ke dalam kesalahan dan dosa. Selain Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم tidak ada fihak yang dapat meng-claim dirinya atau kelompoknya sebagai pemilik kebenaran sejati.
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.(QS Al-Israa 36)
Seperti misalnya kasus seorang pejabat aktifis Islam yang mengutip ayat dari Kitab Suci selain Al-Qur’an. Maka timbul kehebohan di masyarakat. Banyak aktifis Islam lainnya yang mengecam perbuatan tersebut. Mereka memandang apa perlunya tindakan seperti itu dilakukan, tidakkah cukup mengutip dari Al-Qur’an saja sebagai daftar firman Allah سبحانه و تعالى yang telah sempurna dan lengkap? Kemudian secara otomatis muncullah pembelaan dari aktifis seorganisasi dengan pejabat tersebut. Ia melakukan pembelaan yang sedemikian ilmiah dalam sebuah tulisan panjang.
Maksudnya adalah memberikan alasan argumentatif dalam rangka justifikasi perbuatan sang pejabat. Tulisan tersebut cukup bermutu. Tetapi sayang ketika sang pejabat itu sendiri di-tabayyun (dimintai penjelasannya) kemudian diwawancarai langsung oleh media untuk ditanyakan apa sebenarnya latar belakang ia mengutip Kitab Suci selain Al-Qur’an, maka ia mengaku dirinya merupakan sosok inklusif yang menghadirkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamien.
Lalu ia mengatakan bahwa penyebutan terhadap ayat di Kitab Suci selain Al-Qur’an itu menunjukkan partainya tidak memiliki pandangan sempit. Artinya, apa yang begitu panjang lebar dan ilmiah dijadikan pembelaan oleh kawan separtainya justeru dibantah oleh pejabat itu sendiri. Ini sudah cukup bagi kita untuk memperoleh gambaran akan situasi yang sebenarnya. Wallahu a’lam.
Tetapi demikian pula sebaliknya, janganlah kebencian kita kepada orang atau kelompok tertentu menyebabkan kita ikut-ikutan menjadi usil sebagaimana usilnya para insan media sekuler. Semata-mata karena kita senang melihat fihak lawan politik kita tersingkap aib dan kelemahannya di depan publik.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ
شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ
عَلَى أَلا تَعْدِلُوا
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al-Maidah 8)
 
Betapapun tidak setujunya kita terhadap kiprah seseorang atau suatu kelompok tertentu hal itu tidak boleh menjadi pembenaran atas penyebarluasan aib dan kesalahan mereka.
Kita harus senantiasa ingat dan yakin bahwa para malaikat tidak pernah lalai mencatat setiap perbuatan manusia, baik dikerjakan di tempat terbuka maupun tertutup. Dan Allah سبحانه و تعالى merupakan Dzat Yang Maha Adil. Allah سبحانه و تعالى pasti akan memberikan ganjaran yang setimpal atas setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun. Setiap amal kebaikan akan memperoleh reward yang setimpal dan setiap amal keburukan memperoleh hukuman yang juga setimpal.
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.(QS Az-Zalzalah 7-8)

Inilah Zaman Kita, Mulkan Jabariyyan!

 sumber: islampos


 world leaders
“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,” (H.R Ahmad).
INILAH babak keempat era akhir zaman yang sudah disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW. Yaitu kehidupan di bawah kepemimpinan Mulkan Jabriyyan alias para penguasa yang memaksakan kehendak atau para diktator. Babak ini diawali dengan berakhirnya babak ketiga yaitu babak kepemimpinan Mulkan Aadhdhon atau para pemimpin yang menggigit. Yang dimaksud dengan para pemimpin yang menggigit ialah para khalifah Islam yang memimpin khilafah Islamiyyah sejak Kerajaan Daulat Umayyah lalu Daulat Abbasiyyah kemudian Kesultanan Turki Usmani yang dalam literatur Barat Eropa disebut The Ottoman Empire. Total masa berlangsungnya babak ketiga mencapai kurang lebih empat belas abad.
Ketika masih hidup di babak ketiga umat Islam memiliki para pemimpin yang dijuluki para khalifah namun dalam mekanisme suksesinya menggunakan pola kerajaan yang mewarisi kepemimpinan berdasarkan garis keturunan keluarga. Atau  sistem oligarkhi. Namun para raja tersebut masih ”menggigit Al-Qur’an dan As-Sunnah” sehingga Nabi menjuluki mereka sebagai para Mulkan Aadhdhon atau Raja-raja yang Menggigit. Berbeda dengan babak sebelumnya yaitu babak kepemimpinan Khulafa Ar-Rasyidin yang ”menggenggam  Al-Qur’an dan As-Sunnah”, maka ibarat mendaki bukit tentu lebih pasti dan aman menggenggam tali sampai puncak bukit  daripada menggigitnya.
Oleh karenanya kita dapati pada babak ketiga terkadang ada ditemukan khalifah yang adil-bijaksana seperti Umar bin Abdul Aziz, namun pada babak yang sama ada juga yang berwatak kejam seperti Abul Baqa’ Al-Qaim Biamrillah di Mesir.
Betapapun banyaknya catatan atas babak ketiga, namun pada babak tersebut umat Islam masih memiliki sistem khilafah sebagai tatanan formal kehidupan bernegara. Hukum yang diberlakukan masih hukum Allah. Sedangkan sesudah itu umat bukan saja hidup di bawah kepemimpinan para Mulkan Jabriyyan yang merupakan para diktator bermasalah secara personal, tetapi juga bermasalah secara sistem.
Belum pernah umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah Islamiyyah seperti yang dialami dewasa ini. Keadaan umat Islam dewasa ini mirip seperti keadaan Nabi dan para sahabat saat berjuang di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah. Mereka mengalami pengusiran dari rumah, penganiayaan, penyiksaan, pemboikotan bahkan pembunuhan. Sedemikian hebatnya penderitaan yang dialami, sehingga  sempat sahabat Khabab bin Arat datang dan mengeluh di hadapan Nabi. Apa jawaban Nabi saat itu?
“Ada seseorang dahulu yang ditanam badannya ke dalam bumi hingga sebatas lehernya lalu kepalanya digergaji sehingga terbelah dua namun hal itu tidak menghalanginya dari tetap beragama. Kemudian disisir dengan besi sehingga terkelupas dagingnya dan tampaklah tulangnya namun hal itu tidak menghalanginya dari tetap beragama. Demi Allah, sungguh urusan ini akan disempurnakan sehingga seorang pengembara berjalan dari San’a hingga Hadramaut tidak merasa takut kepada apapun selain Allah atau srigala yang menerkam gembalanya. Akan tetapi kalian tergesa-gesa…!” (HR Bukhari 3343).
Apa yang kita alami dewasa ini merupakan sunnatullah. Ini merupakan suatu cara bagi Allah untuk menyeleksi siapa di antara orang-orang yang mengaku beriman memang sungguh-sungguh beriman. Allah tidak berkenan memberikan kemenangan bagi umat Islam sebelum mereka mengalami penempaan yang semestinya. Bersabarlah. Jangan mengira bahwa sikap diam dan seolah tidak berbuat merupakan sikap pasif dan mengalah..! Jangan kira bahwa mereka yang menghiasi media-massa berlomba merebut panggung kekuasaan merupakan fihak yang paling berjasa bagi perjuangan umat dan perubahan sosial.
Pada tahap ini yang diperlukan adalah orang-orang beriman yang mampu menahan diri sambil terus membina pribadi dan keluarganya serta umat di sekelilingnya bersiap-siaga menghadapi masa-masa kritis peralihan dari babak keempat menuju babak kelima. Peralihan dari babak kepemimpinan Mulkan Jabriyyan menuju tegaknya kembali Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah. Suatu bentuk  peralihan yang seringkali digambarkan sebagai fase Huru-Hara Akhir Zaman. Suatu peralihan yang sudah barang tentu tidak akan dilalui seperti berjalan di taman bunga dan permadani mewah. Suatu peralihan yang sangat boleh jadi menuntut tertumpahnya tetesan airmata dan darah.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran ayat 139-140) [disarikan dari tausiyah ust. Ihsan Tandjung]

4 Tips Shalat Khusyu - Updated 4 Oct 2011

sumber: islamterbuktibenar

image
SAUDARA SEMUA MERASA PIKIRAN MELAYANG KEMANA-MANA SAAT SHALAT??? Belum merasa puas atas shalat yang kita lakukan? Tidak perlu banyak TIPS untuk menggapai shalat yang lebih khusyu, saudara boleh coba 4 TIPS SHALAT KHUSYU berdasar Qur'an & Hadits ini.
Untuk versi e-book nya, agar dapat di print, dapat dibaca ulang dari komputer / handphone, dapat disebarkan secara offline, copy paste di semua internet cafe, warnet, rental komputer, email, dapat di free download gratis cuma-cuma di sini, UKURANNYA HANYA 1 Mb saja :
http://hotfile.com/dl/124072970/5bcc659/_4_TIPS_SHALAT_KHUSYUK_BARU_-_8_JULI_2011.pdf.html

السلام عليكم . بِسْــــــــــــــــــمِ ﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم
الحمد لله رب العا لمين. الصلاة و السلام على رسو ل الله.اما بعد

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.
Ada banyak orang menjelaskan berbagai cara untuk mencapai shalat khusyuk, tapi saran kami, tak perlu banyak tips untuk mencapai shalat yang lebih khusyu. Tak perlu berlembar-lembar atau habiskan uang dan waktu untuk membeli buku shalat khusyu & mempelajarinya. Khusyu itu mudah, cukup coba 4 Tips dari kami.
Mari kita tanya pada Qur'an, bagaimana melakukan shalat yang lebih khusyu. Kami rasa, tentu banyak dari saudara saudari sudah pernah mendengar hadits dibawah ini:
Amal seorang hamba pertama kali di hisab pada hari kiamat adalah shalat, apabila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya dan apabila shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya “ HR. Thabrani 1880
Dan pada sebuah Hadits, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Di akhirat nanti, ada seorang laki-laki yang mengerjakan shalat selama 60 tahun, tetapi tidak ada satu shalat pun yang diterima darinya . Barangkali ia menyempurnakan ruku’, tetapi tidak menyempurnakan sujud, dan menyempurnakan sujud tetapi tidak menyempurnakan ruku ‘” HR.Al-Ashbahani
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”. QS.23 Mu’minuun: 1-2
Setelah Allah menyebutkan sebagian sifat-sifat mereka, kamudian Dia menyebtukan balasan mereka:
Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yakni yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. QS. 23 Mu’minuun: 9-10
Ibnul Qoyyim rahimhullah berkata: Manusia di dalam masalah shalat terbagi menjadi beberapa tingkatan:
Pertama: Tingkatan orang yang zalim terhadap dirinya sendiri dan lalai dengan shalatnya. Dialah orang yang shalat dengan wudhu’ yang tidak sempurna, shalat tidak pada waktunya, batas-batasnya dan tidak menyempurnakan rukun-rukunnya.
Kedua: Orang yang semata-mata menjaga waktu, batas-batas shalat dan rukun-rukunnya yang lahiriyah dan menjaga waudhu’. Namun dia tidak berusaha melawan bisikan-bisikan maka dia terhanyut dalam bisikanbisikan dan pikiran-pikirannya di dalam shalat.
Ketiga: Barangsiapa yang menjaga batas-batas shalat dan rukun-rukunnya, dan bersungguh-sungguh mengarahkannya jiwanya dalam melawan bisikan-bisikan dan fikiran-fikiran yang menggoda di dalam shalatnya, maka dengan hal tersebut sesungguhnya dia telah menyibukkan dirinya dalam menghadapi musuhnya agar musuhnya itu tidak mencuri shalatnya, maka dengan seperti ini dia berada dalam sholat dan jihad.
Keempat: Orang yang apabila bangkit menunaikan shalat maka dia menyempurnakan hak-hak, rukun-rukun dan aturan-atauran shalat, hatinya dikerahkan untuk menjaga tuntutan-tuntutan shalat, agar dia tidak menyia-nyiakan sedikitpun dari ibadah shalatnya.
Bahkan, seluruh potensi dan semangatanya tercurah untuk menyempurnakan penegakan shalat sebagaimana mestinya, maka dengan ini sungguh hatinya telah terarah pada perkara shalat dan ubudiyahnya kepada Allah swt.
Kelima: Orang yang bangkit menegakkan shalat dengan cara seperti di atas, bersamaan dengan itu dia hatinya tertumpah di hadapan Allah Azza Wa Jalla, dia melihat Allah dan menyadari akan pengawasan Allah, hatinya cinta kepadaNya dan mengagungkanNya sekan dia melihat Allah.
 
Semua bisikan dan lintasan-lintasan pikiran telah terhapus, telah terangkat dinding antara dirinya dan TuhanNya, maka orang yang seperti ini di dalam perkara shalat lebih utama dan lebih agung dari pada jarak yang memisahkan langit dan bumi, orang yang seperti ini sedang sibuk dengan bermunajat kepada Tuhannya swt di dalam shalatnya.

Mari kita koreksi diri, termasuk golongan manakah kita? Tidak kah kita ingin memperbaikinya? Melihat ke atas dalam hal ibadah ialah baik sekali, dan mari kita sama-sama berusaha lebih baik
4 tips ini akan kami usahakan diperjelas agak lengkap dengan dalil baik dari Qur’an maupun haditsnya agar lebih mantap, yakin & akurat, tidak dibuat-buat tanpa dasar Qur’an & Hadits.
LANGSUNG SAJA MARI KITA BAHAS 4 TIPS BERIKUT YANG BAIK UNTUK DICOBA UNTUK MENCAPAI SHALAT LEBIH KHUSYU:

1. Jangan pernah berfikir jika kita masih bisa hidup setelah shalat.
Kita harus yakin jika shalat ni ialah sebagai shalat terakhir kita dimuka bumi ni, sering kita dengar si fulan meninggal seusai shalat, si fulan meninggal setelah adzan, imam fulan meninggal saat sujud dan lainnya. Si fulan meninggal saat tengah judi, maksiat dan lainnya.
Mungkin ini ialah shalat terahir di dunia, setelah itu, kita harus relakan suami / istri kita seorang diri, anak kita menjadi yatim piatu, mungkin nanti malam ialah malam pertama dalam liang kubur, semua harta yang kita kumpulkan tak akan kita bawa, & menjadi hak saudara kita, wajah elok & cantik yang kita banggakan dalam sekejap akan berubah busuk.
Dari Abi Ayyub ra bahwa Nabi saw bersabda: Apabila engkau mendirikan shalat maka maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”. (Musnad Imam Ahmad: 5/412)
“Orang yang akan Berpisah” yang dimaksud disini ialah seperti halnya orang yang akan berpisah nyawa & raganya, akan berpisah dengan semua anak istri, harta, tahta, segala dunia berganti dengan malam pertama di liang kubur yang gelap, sunyi, sepi, dingin, sendiri, tiada teman disisi.

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita sedikit singgung pengertian KHUSYU yang dimaksud Qur’an. Kami bahas disini karena ada hubungannya dengan KEYAKINAN MENGHADAP ALLAH, AKHIRAT, SEKARAT MAUT, KUBUR, DAN SEBAGAINYA

Kita mulai dari kata KHUSYU dalam Qur'an:

QS.88 Ghaasyiyah:2.Banyak muka pada hari itu tunduk terhina

QS.79 An-Nazi’at:9. Pandangannya tunduk

QS.Al-Qamar:7. Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan

QS . Thaahaa:108. Pada hari itu manusia mengikuti penyeru [#] dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan yang Maha pemurah, Maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.

[#] Yang dimaksud dengan penyeru di sini ialah Malaikat yang memanggil manusia untuk menghadap ke hadirat Allah

QS.59 Al-Hasyr:21. Kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir

QS.68 Al-Qalam:43. pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. dan Sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam Keadaan sejahtera[*].

[*] Maksudnya: ialah bahwa mereka berkesempatan untuk melakukan sujud, tetapi mereka tidak melakukannya

Q S.41 Fushshilat:39. Dan di antara tanda-tanda-Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang , Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Silahkan saudara bayangkan sedang di akhirat, bangkit dari kubur dalam keadaan penuh dosa, sedikit amal, takut, patuh, was was, digiring malaikat penyeru, hina, ingkar pada perintah Allah, lalai shalat, lalai zakat, kikir sedekah, haus, tenggorokan kering ditengah padang makhsyar dan sebagainya. Dan semoga saudara MERASAKAN apa yang dimaksud KHUSYU.
Sedangkan pengertian KHUSYU dalam shalat ialah: Kondisi hati yang penuh dengan ketakutan, mawas diri dan tunduk pasrah dihadapan keagungan Allah. Kemudian semua itu membekas dalam gerak-gerik anggota badan yang penuh hikmat dan konsentrasi dalam shalat, bila perlu menangis dan memelas pada Allah sehingga tidak memperdulikan hal lain.
KHUSYU ialah berawal hati, jika hati kita ditata rapih, insya Allah mudah mencapai KHUSYU, namun jika hati kita sudah tergesa-gesa dan memikirkan hal lain dalam shalat, maka pikiran pun dapat melayang. Tundalah semua makhluk & dunia jika akan shalat dan menghadap Allah.
Setelah MERASAKAN bagaimana rasanya kita bangkit dari kubur di hari akhir menuju padang makhsyar, masihkah kita menggunakan ALLAH sebagai bahan ejekan, bercanda, bergurau, olok-olok? Sepantasnyalah hati kita bergetar mendengar lafadz ALLAH disebutkan jika mengingat kematian / dibangkitkan nanti
  
QS.8 Anfaal:2. Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, GEMETARLAH HATI MEREKA , dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
Berapa kali kita lafadzkan “ALLAH ” dalam shalat kita? Dalam 1 rakaat saja sudah 6 X takbir, adakah GEMETAR dalam hati kita?
QS.39 Az-Zumar:23. Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa lagi berulang-ulang, GEMETAR KARENANYA KULIT ORANG-ORANG YANG TAKUT KEPADA TUHANNYA , kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpin pun.
Sering kita lihat sekitar kita, beberapa oknum yang menyebut Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, orang-orang shalih, haji & kyai sebagai bahan ejekan, bercanda, bergurau, olok-olok dan sejenisnya. Maka hal ini dapat mengeraskan hati mereka, SUKAR MENCAPAI SHALAT KHUSYU, bahkan, pelakunya disebut dengan gelar KAFIR dan diancam dengan JAHANAM S E L A M A N Y A

QS.18 Kahfi:106. Demikianlah balasan mereka itu neraka Jahannam , disebabkan kekafiran mereka & disebabkan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai olok-olok

QS.45 Jaatsiyah: 9. Dan apabila dia mengetahui barang sedikit tentang ayat-ayat Kami, maka ayat-ayat itu dijadikan olok-olok . Merekalah yang memperoleh azab yang menghinakan

QS.9 Taubah:65... tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja ." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?"
AYAT DIATAS SUNGGUH TEPAT SEKALI UNTUK GOLONGAN ORANG-ORANG YANG MENGATAKAN
GITU AJA KOK REPOT, SAYA KAN CUMA BERCANDA !!!”

QS.7 A'raaf:51. orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau , dan kehidupan dunia telah menipu mereka." Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami
  



QS.45 Jaatsiyah: 35. Yang demikian itu, karena sesungguhnya kamu menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kamu telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat

QS.31 Luqman: 6. Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan . Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan
.
QS.6 An'aam:70. Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau , dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka , karena perbuatannya sendiri. tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa'at selain daripada Allah. dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. mereka Itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka dahulu  
Semua ini tentu diawali dengan hati, jika hati kita sering memperolok Allah, Malaikat, Kitab, Nabi, Rasul, Orang-orang shalih, haji, kyai, santri dan lainnya, maka hati kita akan keras dan hilang rasa takut karena telah memperolok-olok seperti yang diterangkan diatas.
Tatalah hati sebelum shalat, Tanamkanlah bahwa apa susahnya tenang dan tidak tergesa-gesa dalam shalat, meluangkan sedikit waktu untuk shalat dengan tenang, khusyu diantara banyak waktu untuk dunia lainnya. Shalat ialah panggilan illahi, shalat ialah penenang hati, perjumpaan Allah dengan hamba, wujud rasa syukur hamba pada Allah yang telah banyak mengaruniakan nikmat yang tidak terhingga, serta lainnya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkSyh6cNOQdWsdnQo5RDtHUYUjV-0OXwIARUKv2Zec17OLhYx7RQD6_0D2ytX1wSTpHT3Dt6QMdskc_i0rCCjtaFi4m7yaroy4gOLCRg3TGXXPylZoSBXCI3X7CZPn-NxIp2m-7hmJ-ZY/s1600/shalat.jpg

Khusyu’ ialah ketundukan, kelembutan dan ketenangan hati. Dan apabila hati merasakan kekhusyu’an tersebut maka anggota badanpun mengikutinya. Sebab anggota badan ini mengikuti perintah hati .
Dari Nu’man bin Basyir ra bahwa Nabi saw bersabda: Ketahuilah sesungguhnya di dalam badan ini terdapat segumpal daging yang apabila dia baik maka baiklah seluruh jasad dan apabila rusak maka rusaklah seluruh bagaian jasad, ketahuilah bahwa itulah hati”. (Shahih Bukhari: 1/234 nno: 52 dan shahih Muslim: 3/1220 no: 1599).
Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW berkata di dalam shalat beliau: Pendengaran, pengelihatan, otak, tulang dan uratku khusyu’ kepadaku ”. (Bagian dari hadits di dalam shahih Muslim: 1/53 no: 771).
Dan sebelum pendengaran, mata, otak, tulang & urat tunduk, maka lebih dulu ialah hati kita yang perlu dibenahi.
Dalam Sebuah Hadits, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
Sesungguhnya karunia pertama yang dicabut Allah dari para hamba-NYA ialah kekhusyu’an dalam shalat .” HR.Bukhari, HR.Thabrani, An-Nasa’I Dan lainnya.
Hal ini dapat kita latih dengan menghayati dzikir tanpa hitungan, artinya berdzikir sampai hati kita merasa GEMETAR saat menyebut lirih lafadz ALLAH, dan juga melatih sampai hati kita GEMETAR mendengar lafadz ALLAH yang kita lafadzkan sendiri.
Memang Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan berdzikir dan juga beristighfar dengan hitungan, namun salah satu kesalahan kita ialah terlalu memfokuskan diri pada hitungan, malah ada yang cenderung berdzikir dengan sangat cepat sekali seakan sekedar mencapai hitungan 33 kali sedang makna dzikir itu tidak membuat hati kita GEMETAR , dan kurang berbekas di hati.
Beberapa diantara banyaknya ayat Qur’an yang menyuruh kita berdzikir sebanyak-banyaknya dalam setiap keadaan ialah:
QS.33 Al-Ahzab: 41. Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah pada Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya .
QS.4 An-Nisaa’:103. Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring . kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
Qur’an menjelaskan KHUSYU dengan menggunakan situasi BAGAIMANA KITA DIBANGKITKAN DARI LIANG KUBUR KELAK DI AKHIRAT NANTI , dan Hadits pun memerintah agar kita SHALAT SEPERTI ORANG YANG AKAN TERPUTUS DARI NYAWA , DUNIA, SEGALA NIKMAT DAN LAINNYA. Untuk lebih meresapkan dan menggetarkan hati, kami sarankan saudara saudari membaca FREE Ebook Gratis kami yg berjudul: MENG-INGAT AKHERAT
Dan ebook tersebut dapat di download gratis disini:
http://hotfile.com/dl/121720956/7653c21/_MENG-INGAT_AKHERAT_-_www.islamterbuktibenar.net.pdf.html
Apabila seseorang yang menjalankan shalat memasuki mesjid maka mulailah bisikan-bisikan, pikiran-pikiran dan kesibukan dengna perkara dunia merasuki akal fikrannya dan dia tidak menyadari dirinya dalam beribadah kecuali setelah imam selesai dengan shalatnya.
Maka pada saat itulah dia merugi dengan shalatnya yang tidak dikerjakan secara khusyu’ dan tidak pula merasakan manisnya beribadah, dia hanya gerakan-gerakan yang komat-kamit mulut sama seperti jasad yang hampa dari ruh.
Shalat tanpa kekhusyu’an dan kehadiran hati dapat diibaratkan dengan jasad yang mati tanpa ruh, apakah seorang hamba tidak malu jika dia menghadiahkan kepada orang lain sosok tubuh bangkai hewan atau seekor sapi yang telah mati? Tak dapat digunakan membajak sawah / diambil dagingnya/kulitnya?
Tentu pemberian ini akan memberikan nilai penghargaan dari siapapun yang ditujunya. Seperti inilah shalat yang hampa dari rasa khusyu’, dan pikiran melayang kemana-mana.
Sesungguhnya dua orang lelaki berada dalam suatu shalat namun keduanya berada dalam perbedaan yang sangat jauh sama seperti jauhnya langit dan bumi”. (HR. Muslim)

Dari Ammar bin Yasir ra bahwa Nabi saw bersabda: Bahwa sungguh seseorang selesai menunaikan shalatnya namun dia tidak mendapat pahala shalatnya itu kecuali sepersepuluhnya, atau sepersembilannya, atau seperdelapannya, / sepertujuhnya, atau seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, setengahnya”. ( Sunan Abi Dawud: 1/211 no: 796)
Kekhusyu’an dalam shalat akan terjadi pada orang yang mengkhususkan hatinya untuk shalat tersebut, hatinya tertuju kepadanya bukan kepada yang lain dia lebih mengutamakannya atas urusan yang lain, pada saat seperti itulah shalat menajdi penyejuk mata. Dari Anas ra bahwa Nabi saw bersabda bahwa ketentraman ada pada shalat”. ( Sunan Al-Nasa’i: 7/61 no: 3939)
Bahkan jika Nabi saw ditimpa kesusahan oleh suatu perkara maka beliau mendirikan shalat dan beliau saw bersabda: Bangkitlah wahai Bilal dan tenangkanlah kita dengan shalat”. ( Sunan Abu Dawud: 4/297 no: 4986)
Juga, Allah menerangkan dalam Firman-NYA:

QS.2 Baqarah:153. Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Sebagai seorang yang mengaku muslim, tidak lengkap rasanya jika kita lalui dengan shalat yang kurang khusyu.
Artikel ini sebetulnya telah diposting 3x di group pertama "Islam Terbukti Benar" saat sebelum diblokir oleh kufar Facebook Yahudi, yaitu pada saat anggota group masih 30.000an di bulan February 2010, dan saat anggota berjumlah sekitar 1 jutaan, serta awal Ramadhan 1431 H tepatnya 22 Agustus 2010.
Ada banyak orang menjelaskan berbagai cara untuk mencapai shalat khusyuk, tapi saran kami, tak perlu banyak tips untuk mencapai shalat yang lebih khusyu. Tak perlu berlembar-lembar atau habiskan uang dan waktu untuk membeli buku shalat khusyu & mempelajarinya. Khusyu itu mudah, cukup coba 4 Tips dari kami. Mari kita tanya pada Qur'an, bagaimana melakukan shalat yang lebih khusyu, semoga bermanfaat.

QS. 47 Muhammad:24 Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an ataukah hati mereka terkunci?
Secara bahasa, KHUSYU memiliki beberapa persamaan kata yang lain yaitu: Tunduk, Pasrah, Merendah, Tenang, Menghayati, Meresapi, Menyelami dan sebagainya.
Sedang Arti KHUSYU itu sendiri mirip dengan kata KHUDHU, hanya saja jika kata KHUDHU itu lebih sering digunakan untuk anggota badan, tapi kata KHUSYU ini ialah untuk kondisi dan gerak-gerik hati.
Dalam sebuah ayat Qur’an, Allah berfirman:
45. Jadikanlah sabar & shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
46. (yaitu) orang-orang yang MEYAKINI, BAHWA MEREKA AKAN MENEMUI TUHANNYA, dan bahwa MEREKA AKAN KEMBALI PADA-NYA .
Kata arab yadlunnuuna yang kami beri warna merah pada ayat diatas berarti MEYAKINI “PADA SAAT INI”, dan ini berarti Jadi jelas sekali bahwa keyakinan bahwa kita sedang menghadap Allah, tak lama lagi kita akan dicabut nyawa setiap saat.

Hal ini akan membantu banyak dalam mencapai KHUSYU. Cepat atau lambat, tamu terakhir kita MALAIKAT MAUT akan datang dengan segera, tanpa diundang, tanpa pemberitahuan. INGATLAH SELALU, MUNGKIN INI SHALAT TERAKHIR BAGI KITA!!! & MALAM-MALAM SELANJUTNYA MUNGKIN AKAN KITA LALUI DI LIANG KUBUR YANG GELAP & SEMPIT, SUNYI, SEPI, SENDIRI.
Pernahkah saudara dapati pohon kamboja di tanam di perumahan-perumahan elite? Namun di tempat lain pohon kamboja malah tumbuh di kuburan?
Pentingnya sebuah keyakinan, jika kita berkeyakinan pohon kamboja itu ada hantunya, maka lewat didekatnya di siang bolong pun akan terasa merinding. Namun jika berkeyakinan jika jika bunga kamboja itu indah, maka tak jarang kita lihat seorang gadis menyelipkan bunga kamboja di telinga atau pada rangkaian bunga, atau terkadang mengambil bunga kamboja untuk di apungkan di atas kolam.
Dengan meyakini bahwa kita akan segera meninggal, dipanggil dan menghadap Allah maka kita tidak akan terasa sombong, sebaliknya kita akan mendatangi shalat dengan rasa rendah diri.
Sebagai contoh: Saat ditimpa musibah, kita justru malah bisa merasakan khusyuknya shalat, tanpa teori dan segala macam usaha, serasa Allah menghampiri dan bahkan terasa dekat sekali, bahkan tak jarang kita terharu & menangis, kenapa bisa?
Karena kita datang pada Allah dengan mengharap, rendah diri, pasrah, perlu, memohon & menghiba pertolongan. Ingatlah sebuah hadits yang mengatakan:
Katakan pada hamba-hambaKU, jika mereka menghampiri sehasta, AKU menghampiri dua hasta, jika mereka mendekat dengan berjalan, maka AKU mendekat dengan berlari.
Namun sebaliknya jika kita merasa kaya, merasa cakep, merasa tenar, merasa tinggi jabatan, membusungkan dada, maka terasa susah sekali untuk khusyu, malah yang ada didalam shalat kita hanyalah keangkuhan kita, aktivitas kita, harta kita, dan lainnya. Dari itu, mari kita perbaiki sikap kita saat akan shalat, yakinilah bahwa sebentar lagi, suka atau tidak suka, kita akan mati cepat. Datangi shalat kita dengan rendah diri, tunduk & menghiba:
QS.6 Al-An’aam: 42. Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan kesengsaraan dan kemelaratan , supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri .
Dan menurut saudara saudari sekalian, musibah apa yang paling dahsyat bagi kita ? Tentu saja sakarat maut , saat TAMU TERAKHIR menjemput, maka lenyaplah segala kelezatan, hilang semua nikmat melihat, nikmat makan, nikmat mendengar, nikmat harta, nikmat cinta dengan pasangan, SEGALA NIKMAT.
QS.39 Az-Zumar: 8. Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, Dia memohon kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya ; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah Dia akan kemudharatan yang pernah Dia berdoa untuk sebelum itu, dan Dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan dari jalan-Nya..
Masalah kehidupan yang sedang dihadapi boleh dibawa ke dalam shalat dengan shalat sunnah 2 rakaat, kita mengadu pada Allah atas masalah yang kita hadapi agar diberi jalan keluar yang terbaik. Silahkan baca Al-Fatihah, insya Allah semua cobaan berupa KEBAIKAN dan cobaan berupa KESUSAHAN pun bisa dibawa masuk ke dalam surat Al-Fatihah.
Tidaklah seorang muslim yang di datangi oleh shalat yang wajib, kemudian dia baik dalam berwudhu’, menghadirkan kekhusyu’an dan ruku’ maka dia akan menjadi penghapus bagi dosa-dosa yang telah dikerjakan sebelumnya, selama dia tidak pernah berbuat dosa-dosa besar dan hal itu terjadi selama sepanjang masa”. ( Shahih Muslim: 1/206 no: 228)
Dan Nabi saw ialah orang yang paling banyak khusyu’nya di dalam shalat. Abdullah bin Al-Syikkhir berkata: Aku melihat Nabi saw mendirikan shalat dan di dalam dada beliau terdengar isak tangis seperti suara gesekan penggiling tepung karena menangis ”. Sunan Abu Dawud: 1/238 no: 716
Dan Abu Bakr ialah seorang lelaki yang banyak menangis dikala shalat sehingga dia tidak bisa memperdengarkan suara bacaannya pada saat sholat mengimami orang. Dan Umar ra, pada saat dia mengimami orang dalam shalatnya dan membaca surat Yusuf maka isak tangisnya terdengar sampai pada akhir saf dan dia membaca: Qs. Yusuf:84. Shahih Bukhari: 1/236
Isham Yusuf bertanya:”Hai Hatim, apa yang dimaksud dengan menyempurnakan shalat?”. 
Jawabnya: “Menjelang (sebelum) waktu tiba, sudah siap dengan wudlu sempurna, lalu berdiri tegak di tempat shalat sepenuh jiwa raganya, hingga terbayang seakan-akan Ka’bah didepan mata, dan makam (liang lahat) tepat didada, e mengetahui segala isi hati, kaki seakan berada diatas sirath, surga disisi kanan dan Neraka dikirinya, Malaikat Malaikat tepat berada di tengkuk belakangnya, dan punya perasaan bahwa “Shalat ini shalat yang terakhir dilakukan olehnya.
Kemudian takbir dengan khusyu’, dan hening penuh dengan tafakkur (berfikir), saat membaca Al-Fatihah dan surat, lalu ruku dengan penuh tawadlu, dan sujud dengan tunduk merendah serta memohon, terus duduk dengan sesempurnanya, baca tahiyat (tasyahud) dengan penuh harapan dan takut, akhirnya salam menurut sunnatur rasul.
Semuanya diserahkan secara ikhlas kepada e , lalu berdiri (sesudah selesai shalat) dengan penuh rasa takut jika tidak diterima shalatnya, dan pula penuh harap diterimanya oleh e . Dan semua dipelihara dengan penuh rasa sabar.”
Tanya Isham:”sejak berapa lama anda lakukan shalat seperti yang diceritakan tadi?”. Jawabnya:”Sejak 30 tahun.” Akhirnya ia menangis dan berkata:”Aku sama sekali belum pernah melaksanakan shalat yang seperti anda jelaskan .”
Bagaimana kita dapat Shalat Khusyu sementara kita terlalu TAKABUR/ terlalu SOMBONG & yakin jika kita masih hidup beberapa waktu setelah shalat? Bertakbir ALLAAHU AKBAR namun yang dibesarkan ialah ego diri? Naudzubillah, mari kita sama belajar khusyu, perlahan dan menghayati setiap bacaan
Tak jarang bibir kita bertakbir: “Allaahu Akbar”, Namun kenyataannya dalam hati kita bukan Allah Yang Maha Besar, tapi selalu mengingat kebanggaan kita, selalu diri kita yang hadir di lamunan dalam shalat. Kita membaca Fatihah, tapi tidak hayati apa artinya dan tahu-tahu Fatihah sudah selesai dibaca tanpa meresap ke dalam hati. Akhirnya, bukan Allah yang diagungkan, tapi diri kita sendiri, atau makhluk lainnya yang diagungkan.
QS.39 Az-Zumar: 67. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.


2. WAJIB TAHU ARTI TIAP BACAAN JIKA INGIN KHUSYUK
Qs.4 An-Nisaa':43. Hai orang-orang yang beriman, JANGANLAH kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, SEHINGGA KAMU MENGERTI APA YANG KAMU UCAPKAN ...
Jelas sekali ayat ini menekankan pada arti bacaan shalat, kita dapat melatihnya secara berlahan. Jangan sampai puluhan tahun kita hidup di dunia, hafal beratus-ratus lagu Eropa & Lagu Amerika lengkap dengan nada panjang pendek, intonasi serta artinya dan juga riwayat pembuatan lagu & riwayat hidup Artis penyanyinya tapi bacaan shalat saja tidak hafal.
MABUK dalam ayat ini boleh diartikan sebagai mabuk khamr, tapi juga mabuk dunia, mabuk harta, mabuk tahta, mabuk cinta pun termasuk pulak dalam hal yang mengganggu shalat sehingga kita lupa/silap/tak sadar bacaan shalat apa yang telah kita baca, bahkan selalu-nya kita lupa rakaat ke berapa.
Lebih baik membaca surat pendek yang kita tahu arti bacaan setiap kata-kata daripada membaca surat panjang yang kita tak tahu apa artinya. Ingat, untuk mencapai SHALAT KHUSYU dalam Ayat diatas IALAH FAHAM APA YANG KITA UCAPKAN. Garis besarnya, dalam ayat ini terdapat 2 hal:
a. Jangan melamun, jangan mabuk, jangan mabuk harta, jangan mabuk cinta, jangan mabuk tahta, jangan mabuk dunia yang membuat kita tidak sadar & tidak tahu apa yang kita ucapkan.
b. Arti bacaan shalat yang harus kita fahami untuk mencapai SHALAT KHUSYU. Faham arti bacaan shalat itu PENTING SANGAT HINGGA KITA TIDAK HANYA DITUNTUT HAFAL BACAAN SHALAT TAPI JUGA FAHAM ARTINYA AGAR LEBIH KHUSYUK & MENGHAYATI SHALAT
Jadi,,, maaf,,, untuk akhi, ukhti, kakak, adik yang masih belum faham arti bacaan iftitah, alfatihah, surah/ayat, ruku, i'tidal, sujud, duduk antara 2 sujud, tahiyat awal & akhir, maka WAJIB tahu & hafal maknanya. Lebih bagus jika kata demi kata.
Bagaimana mungkin kita dapat shalat Khusyu jika kita hanya seperti membaca “mantra” yang tak fasih artinya?
Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
Apabila seorang diantaramu sedang shalat, maka sesungguhnya dirinya sedang berbicara kepada Allah,,,, HR. Bukhari 531, HR.Muslim, An-Nasai
Dan tentu saja, komunikasi ini kurang afdhol jika kita tidak memahami arti dari bacaan shalat yang kita baca. Dari itu saudara saudari, begitu pentingnya mengetahui arti dari bacaan shalat yang kita laksanakan setiap hari.
Dengan mengetahui arti dan bacaan shalat, maka membantu jiwa agar seakan meninggalkan kesibukan dunia dan terhanyut dalam komunikasi dengan Allah, sejuk, damai di hati dan di jiwa:
“Apabila engkau melakukan shalat, maka shalatlah kamu, dengan shalatnya orang yang akan meninggalkan alam fana (Alam Nyata),,,” HR.Ibnu Majah 4171, HR.Ahmad 5/412
Alangkah meruginya kita jika sekian puluh tahun hidup di dunia, hafal ratusan rumus, ratusan lagu lengkap dengan panjang pendeknya, naik turun nadanya, termasuk kisah keseharian penyanyi & pengarangnya , ratusan syair, ratusan hafalan lainnya, tapi ARTI dari bacaan shalat saja tidak hafal?
Bukankah Shalat itu wajib? Bukankah shalat itu amal yang pertama kali dihisab? Bukankah shalat itu wujud rasa syukur kita? Bukankah shalat itu komunikasi dengan Sang PENCIPTA? Mana mungkin berkomunikasi jika kita tidak tahu arti?
Untuk arti bacaan shalat ini, dapat saudara cari di toko-toko buku terdekat, atau untuk memudahkan saudara, insya Allah akan kami buatkan ebook khusus tersendiri agar saudara saudari lebih mudah, GRATIS,,, Cuma-Cuma,,, tanpa bayar,,, tanpa iklan,,, Doakan kami agar tetap Istiqomah, bertambah ilmu & hikmah, sehat & mampu manfaatkan waktu

3. UCAPKAN DENGAN SUARA SEDANG/DI ANTARA KERAS & PELAN
(((INI PENTING SEKALI)))
JIKA SAUDARA SEMUA MERASA PIKIRAN MELAYANG KEMANA-MANA SAAT SHALAT??? INILAH PENANGKALNYA
Qs. 17 Al-Israa':110 dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu & jangan pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu".
Bila kita pelankan suara atau cuma di dalam hati saja, maka terkadang fikiran kita akan melayang tak tentu arah, tapi jika kita baca dengan suara lirih yang didengar oleh diri sendiri, maka ini akan lebih membantu konsentrasi pada bacaan shalat, arti & MENSUCIKAN JIWA. Karena ibadah itu semua ditujukan untuk MENSUCIKAN JIWA.
Shalat ialah Syariat, Hakikatnya ialah MENSUCIKAN JIWA, Ma'rifatnya ialah BERSYUKUR PADA PENCIPTA YANG TELAH MEMBERIKAN BANYAK KENIKMATAN YANG TAK TERHINGGA.
Dan kita akan bertambah khusyu, jika saat mengucapkannya dengan suara lirih ditambah memahami bahwa kita sedang bercakap-cakap dan menghadap Allah Sang Pencipta, seperti yang telah diterangkan dalam Hadits sebelumnya.
Shalat yang kita laksanakan, janganlah diisi dengan lamunan dunia, harta, tahta, cinta, dan makhluk lainnya, namun harus keseluruhan shalat tersebut hanya bagi Allah, mulai dari niat sampai salam. Dalam sebuah ayat Qur’an:
QS.6 A’raf:162.Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

4. THUMA’NINAH
Meski Nampak sepele, tapi justru Thuma’ninah inilah termasuk penentu sah tidaknya sebuah shalat karena ia termasuk salah satu dari RUKUN SHALAT. Salah satu rukun shalat batal, maka tidak sah lah shalatnya.
Thuma’ninah ini lah yang sering dilupakan oleh banyak orang. Dalam kitab Fiqh As-Sunah, Thuma’ninah ialah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan , para ulama memberi batasan minimal yaitu sekedar waktu yang diperlukan untuk membaca tasbih.
Rasulullah Muhammad ﷺ memasuki sebuah masjid, lalu seorang laki-laki masuk, lalu shalat, kemudian dia datang, lalu mengucapkan salam kepada Rasulullah Muhammad ﷺ, maka Rasulullah Muhammad ﷺ membalas salamnya seraya berkata:

"Kembalilah, lalu shalatlah, karena kamu belum shalat!"

Lalu laki-laki tersebut kembali, lalu shalat sebagaimana sebelumnya dia shalat, kemudian mendatangi Rasulullah Muhammad ﷺ seraya mengucapkan salam kepada beliau. Maka Rasulullah Muhammad ﷺ menjawab: 'Semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu'

Kemudian beliau bersabda lagi:
"Kembalilah dan shalatlah lagi, karena kamu belum shalat!"

Hingga dia melakukan hal tersebut tiga kali. Lalu laki-laki tersebut berkata, 'Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik selain daripada ini, ajarkanlah kepadaku.'

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:

"Apabila kamu mendirikan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah sesuatu yang mudah dari al-Qur'an, kemudian ruku'lah hingga BERTUMA'NINAH dalam keadaan ruku'. Kemudian angkatlah (kepalamu dari ruku') hingga lurus berdiri, kemudian sujudlah hingga BERTUMA'NINAH dalam keadaan sujud, kemudian angkatlah hingga BERTUMA'NINAH dalam duduk, kemudian lakukan hal tersebut dalam shalatmu semuanya'." HR.Muslim

Jelas sekali bahwa shalat seperti itu dinyatakan BELUM SHALAT dan shalatnya TIDAK SAH, serta diwajibkan mengulang oleh Rasulullah Muhammad ﷺ.

Seringkali kami melihat saudara saudari kita shalat seperti kilat khusus, terburu-buru seakan ada yang sangat darurat sekali, beberapa kali kami jelaskan pada sekitar kami jika shalat seperti itu TIDAK SAH dan wajib mengulang, tentu berdasar hadits diatas.

Mari kita sama saling mengingati sesama insan pada kebaikan dan kesabaran.
Diantara kejahatan PENCURIAN TERBESAR ialah PENCURIAN DALAM SHALAT, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Sejahat-jahat pencuri ialah orang yang mencuri dari shalatnya.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab: “Ia Tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya.” HR. Ahmad, 5/310 dan Shahih Al-Jami’ No.997
Meninggalkan Thuma’ninah, Tidak meluruskan dan mendiamkan punggung sesaat ketika rukuk dan sujud, atau tidak tegak ketika bangkit dari rukuk, atau ketika duduk diantara dua sujud, semua merupakan kebiasaan sebagian besar kaum Muslimin. Bahkan, hampir bisa dikatakan, di semua masjid pasti ada saja orang yang tidak Thuma’ninah, malah dapat dibilang sebagian besar.
QS.An-Nisaa’:103. ,,, lalu jika kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu. Sesungguhnya shalat itu ialah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yg beriman
Jadi sebelum shalat, tenangkanlah dahulu hati, memasrahkan hati, menyiapkan hati untuk melaksanakan shalat. Jangan shalat dahulu jika hati masih kacau, masih teringat hal lainnya. Jika hati tidak tertata, maka shalat cenderung tidak khusyu, tergesa-gesa dan tidak mencapai ketentraman hati yang kita cari.



Sebagai gambaran, seseorang yang melewati daerah yang indah, hamparan kebun teh yang hijau, udara sejuk, sedikit kabut menyelimuti, danau yang tenang, gemericik sungai yang jernih, dengan ikan menari-nari, bunga-bunga disekitar sungai kecil dan pinggir jalan, kupu-kupu berterbangan, burung-burung berkicau riang dan berlompatan, dan lain sebagainya, TENTU TIDAK AKAN DAPAT DINIKMATI OLEH ORANG YANG MELALUI JALAN ITU YANG MENGENDARAI KENDARAAN DENGAN MENGEBUT, KECEPATAN PENUH & PANDANGANNYA HANYA KEDEPAN AGAR CEPAT SAMPAI TUJUAN & CEPAT SELESAI SHALAT.
Lain halnya dengan orang yang berjalan perlahan, tenang, menikmati semua keindahan, pemandangan, suasana yang menyejukkan jiwa. Seperti itulah kurang lebih gambaran jika kita dapat menghayati setiap arti bacaan shalat, gerakan shalat, meresapi, merasuk ke dalam hati dan jiwa, hanyut bersama shalat, memasrahkan seluruh hati, jiwa, pikiran, fokus perhatian hanya pada Allah.
Contoh Thuma’ninah : Sujud pertama, bacaan dibaca perlahan, dihayati, dipahami, setelah bacaan selesai, lalu rasakan tenangnya anggota badan, tidak terburu-buru, setelah tenang baru diam sebentar minimal selama waktu yang diperlukan untuk membaca “SUBHANALLAH”.
Baru dilanjutkan dengan duduk diantara 2 sujud, Bacaan dibaca perlahan, tahu arti tiap katanya, setelah bacaan selesai, lalu rasakan tenangnya anggota badan, setelah tenang baru diam sebentar selama minimal sebanyak waktu yang diperlukan untuk membaca “SUBHANALLAH.” Dan seterusnya disetiap akhir gerakan sebelum berpindah gerakan
Ingatlah bahwa salah satu tujuan shalat ialah mencari ketenangan jiwa & batin dalam menjalani hidup yang penuh cobaan baik berupa kegembiraan maupun musibah. Dan ketenangan batin & jiwa itu tidak akan tercapai jika kita shalat tergesa-gesa.
QS.13 Ar-Ra’d: 28. orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Tentu saja, mengingat Allah berupa dzikir, doa dan sebagainya, namun mengingat Allah, berdzikir dan berdoa yang paling sempurna ialah mendirikan shalat.
QS.23 Az-Zumar:23. Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik Al Quran yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
Thuma’ninah ini termasuk 1 dari 13 rukun shalat. Ingatlah bahwa dalam berbagai hadits shahih baik Muslim, Bukhari, Ahmad, dan lainnya, sering sekali menceritakan bahwa:
Diriwayatkan dari Mahmud bin Rabi: Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah. Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk bersilaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat . Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan salam. Rasul berkata pada pria itu, "Sahabatku, engkau tadi belum shalat, ulangilah shalatmu !"
Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya ia melaksanakan shalat dengan cepat . Rasulullah SAW tersenyum melihat shalat seperti itu. Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, "Sahabatku, ulangilah lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat ."
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah Rasulullah SAW. Melaksanakan shalat dengan cepat. Namun kembali Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi shalatnya kembali.
Dan, ia pun berkata, "Wahai Rasulullah, demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melaksanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!"
Rasulullah Muhammad SAW bersabda: "Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah dengan tenang (thuma'ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak tenang . Selepas itu, sujudlah dengan tenang , kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang . Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu." HR.Bukhari, HR.Muslim
Dalam Hadits lain, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
TIDAK SAH SHALAT SESEORANG , sehingga ia meluruskan punggungnya ketika rukuk dan sujud.” HR. Abu Dawud 1/533, Shahih Al-Jami’ No.7224.
Janganlah kita kira bahwa shalat itu mendapat 1 pahala shalat baik, dan juga jika berjamaah maka akan mendapat pahala 27 kali lipat shalat sendiri karena belum tentu kita khusyu & Thuma’ninah seperti dalam Hadits dibawah ini, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba yang mengerjakan shalat yang diwajibkan kepadanya, ada yang hanya mendapat ganjaran sepersepuluhnya , ada yang hanya mendapat ganjaran sepersembilannya , seperdelapannya, sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya , juga ada yang mendapat ganjaran setengahnya .” HR. Ibnul Mubarak, HR.Bukhari, HR.Muslim
Sekarang mari kita telaah, kira-kira apa yang mengurangi pahala shalat? Jawabnya ialah:
  1. Kita tidak KHUSYU, pikiran kemana-mana karena tidak membaca bacaan shalat dengan suara sedang
  2. Tidak Thuma’ninah penuh
  3. Tidak tahu arti dari semua bacaan shalat
  4. Tahu arti bacaan shalat tapi tidak menghayati
  5. Waktu shalat tidak terjaga, melambatkan shalat
  6. Wudhu tidak sempurna
  7. Sunnah-sunnah shalat tidak diamalkan
Dan sebetulnya masih ada sebab-sebab lain yang dapat mengurangi pahala, namun kami sebutkan beberapa yang utama saja, terutama 5 point pertama yang kita bahas dalam 4 TIPS shalat khusyu ini.
Bayangkan, jika kita 30 tahun terakhir menjalankan shalat 5 waktu, dan ternyata hanya mendapat sepersepuluh pahala, maka berarti shalat kita yang dihitung hanya 3 tahun saja. Bagaimana jika kita shalat bolong-bolong? Baru 5 tahun terakhir?
Dalam Hal ini dikarenakan orang tersebut tidak tenang & tidak Thuma’ninah dalam shalatnya, tergesa-gesa, tidak menghayati, tidak memberikan sepenuh jiwa, hati & raga untuk menghadap Sang Khaliq. Ini pun menandakan bahwa shalat yang tidak Thuma’ninah itu TIDAK SAH! Dan Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan agar mengulangi shalatnya hingga sampai berkali-kali.
Dan Rukuklah sehingga kamu Thuma’ninah dalam Rukuk itu, lalu tegaklah berdiri sampai kamu Thuma’ninah dalam berdiri .” HR.Bukhari 757, 793, 6251, HR.Muslim 397, Abu Dawud 956

Thuma’ninah ini tidak dapat dicapai jika kita masih dalam keadaan malas, terlalu capek atau mengantuk. Dalam sebuah Hadits, Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Jika salah seorang diantara kamu mengantuk, sedang ia tengah melakukan shalat, hendaknya ia tidur terlebih dahulu sehingga hilang rasa mengantuknya. Karena kalau ia shalat terus, jangan-jangan ia beristighfar dan malah mencaci dirinya sendiri.”
HR. Bukhari 212, HR.Muslim 786, HR.Abu Dawud 1310, HR.Tirmidzi 388, Nasa’I 11215-11216, HR.Ibnu Majah 1370, HR.Ahmad VI/6, 202, 259, HR.Ad-Darimi 1373, Imam Malik 31/118
Didalam Hadits lain, dikisahkan Rasulullah Muhammad SAW memasuki masjid, tiba-tiba beliau melihat ada tali yang direntangkan antara dua tiang masjid tersebut.
Beliau lantas bertanya: “Untuk apa tali ini?” Para sahabat menjawab: “Itu milik Zainab, jika ia sedang lemas waktu shalat, tali itu dijadikan tempat berpegangan.”
Maka beliau bersabda: “Lepaskanlah tali itu, setiap kamu hendaknya shalat dengan bersemangat. Kalau dia memang terasa sangat capek, hendaklah istirahat dulu.” HR.Bukhari 1150, HR.Muslim 784 dan lainnya.
Jelas Hadits diatas menganjurkan agar orang yang shalat dengan konsentrasi penuh, pikiran terpusat dan semangat. Jika pun merasa mengantuk sekali, maka hendaknya istirahat atau melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa kantuknya.
Perhatikan, hadits diatas menganjurkan bahwa wanita pun agar mendirikan shalat berjamaah di masjid, dan ini dipertegas oleh Qur’anul Kariim dalam sebuah ayat, Allah berfirman:
QS.3 Ali Imran: 43. Hai Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku'
Jelas sekali bahwa kaum hawa pun diperintah agar shalat berjamaah, diperkuat dengan Hadits diatas, dan juga banyak Hadits lain yang jelas mendukung. Bahkan hingga masa kepemimpinan Khalifah Umar pun para istri tetap melaksanakan shalat berjamaah dalam masjid.
Namun untuk hukum shalat berjamaah bagi kaum hawa ini insya Allah akan kami bahas lain waktu insya Allah dalam e-book berbeda, doakan kami. Satu poin lagi yang perlu kita perhatikan, bahwa untuk mencapai shalat KHUSYU itu harus dengan semangat, namun tetap tenang tidak tergesa-gesa dan BUKAN dilakukan dengan lemah gemulai dan tidak bertenaga.
Untuk mencapai Thuma’ninah, hendaklah seorang muslim mempersiapkan dirinya untuk shalat, jangan sampai dia shalat dalam keadaan menahan sakit perut / menahan buang air kecil / shalat di hadapan makanan yang terhidang. Nabi saw bersabda: Tidak boleh shalat di hadapan makanan dan tidak pula boleh shalat saat dia menahan dua hal yang buruk (menahan buang air kecil & buang air besar)”. Shahih Muslim: 1/393 no: 560
Diriwayatkan dalam HR.Bukhari & HR.Muslim 558, bahwasanya Ibnu Umar pernah dihidangi makanan, saat itu adzan berkumandang, namun beliau terus saja makan samapi selesai. Padahal beliau sudah mendengar suara bacaan imam.
Situasi sekitar juga sedikit banyak mempengaruhi Thuma’ninah:
“Apabila matahari terik / panas sekali, tundalah waktu shalat hingga cuaca agak reda,,, ” HR. Bukhari, Muslim
Dalam Hadits lain, sesuatu yang merusak konsentrasi pun hendaknya dihindarkan. Dari Anas Bin Malik RA diceritakan, bahwa Aisyah RA memiliki kain korden berhias yang menutupi sebagian tembok rumahnya. Maka Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Singkirkan korden itu, sesungguhnya gambar-gambarnya itu terus terbayang dalam diriku saat shalat.”
HR.Bukhari 374, HR. Ahmad III/151
Juga dalam Hadits riwayat lain, Rasulullah Muhammad SAW memendekkan bacaan saat ada anak menangis.
Dan hendaklah pula dia menghilangkan segala sesuatu yang bisa menyebabkan dirinya lalai dari shalatnya seperti hiasan-hiasan, gambar gambar dan yang sepertinya. Dari Aisayh ra berkata: Rasulullah saw shalat mengenakan pakian jenis khomishah yang memiliki garis-garis lalu saat shalat beliau melirik kepada garis-garis yang ada padanya maka Nabi saw bersabda:
Kembalikanlah kain khomisah ini kepada Abi Jahm bin Hudzaifah dan berikanlah kepadaku kain jenis anbijani sesungguhnya dia tadi telah melalaikanku dalam sholatku” . ( Shahih Bukhari: 1/141 no: 373 dan shahih Muslim: 1/391 no: 556)
Tidak diragukan lagi, ini suatu kemungkaran. Pelakunya harus dicegah dan diperingatkan akan ancamannya. Abu Abdillaah A-Asy’ari berkata: “Rasulullah Muhammad SAW shalat bersama sahabatnya, kemudian setelah selesai beliau duduk bersama sekelompok dari mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu rukuk lalu sujud dengan cara mematuk, maka Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
“Apakah kalian menyaksikan orang ini? BARANG SIAPA MENINGGAL DENGAN KEADAAN (SHALATNYA) SEPERTI INI MAKA DIA MENINGGAL DILUAR AGAMA MUHAMMAD . Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya ialah bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya ?”
HR. Ibnu Khuzaimah 1/332, Shifah Shalah An-Nabi oleh Albani
Mari perhatikan, bahwa salah satu tujuan shalat ialah mencari ketenangan dan kepuasan batin. Dan jiwa kita tidak akan pernah tenang dan puas jika shalat kita selalu buru-buru, tergesa-gesa.
Setan sangat pintar & licik, Setan membiarkan kita merasa beragama Islam, namun ternyata jika shalat kita tergesa-gesa, maka ternyata kita meninggal diluar agama Islam, berdasar hadits diatas dan hadits berikut dibawah ini.
Zaid bin Wahb berkata: “Hudzaifah pernah melihat seorang laki-laki tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Ia lalu berkata: “Kamu belum shalat, seandainya engkau mati (dengan membawa shalat seperti ini), NISCAYA engkau mati diluar fitrah yg sesuai dengan fitrah tersebut Allah menciptakan
Muhammad SAW .” HR. Bukhari, Fath Al-Bari 2/274.
Shalat akan terasa nikmat, mudah, dan malah kita ingin shalat lagi jika kita bisa Khusyu, tidak tergesa-gesa, tenang dalam setiap sebelum pergantian gerakan, Thuma’ninah sehingga bacaan meresap ke hati & jiwa, perasaan tenang, sejuk terasa dalam batin, hati & jiwa. Sebaliknya, orang yang tidak khusyu, tergesa-gesa dan tidak Thumaninah, maka akan merasa berat dengan shalat, hal ini tentu akan sulit mencapai ketenangan jiwa
QS.2 Baqarah:45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu' ,
Rasulullah Muhammad SAW selalu mencari ketentraman hati dengan shalat berjama’ah, Jika beliau dilanda kesusahan oleh suatu perkara, maka beliau meminta Bilal agar menyerukan adzan untuk shalat berjama’ah:
“Bangkitlah wahai Bilal dan tenangkanlah kita dengan shalat.” HR. Abu Dawud 4/297 No.4986
Bagaimana dengan shalat kita selama ini??? Masihkah kita shalat dengan pikiran tertuju pada Harta, tahta, cinta & dunia??? Atau Shalat kilat express??? Saat imam belum sempurna sujud kita sudah bergerak menyamai imam?
Ingatlah bahwa Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan agar kita tidak bergerak sebelum imam betul-betul melakukan gerakan selanjutnya secara penuh . Sering kita perhatikan saat Imam baru setengah gerakan menuju sujud, kita sudah mengikutinya, ini sama sekali tidak benar.
Orang yang meninggalkan Thuma’ninah ketika mengerjakan shalatnya, sedang ia mengetahui hukumnya, MAKA WAJIB BAGINYA MENGULANGI SHALATNYA SAAT ITU DENGAN SEKETIKA DAN BERTAUBAT ATAS SHALAT-SHALATNYA YANG DIA LAKUKAN TANPA THUMA’NINAH PADA MASA-MASA LALU . Namun ia tidak wajib mengulangi shalat-shalatnya di masa lalu, berdasarkan Hadits:
KEMBALILAH, DAN SHALATLAH, SESUNGGUHNYA ENGKAU BELUM SHALAT . ” HR. Bukhari, Muslim
Termasuk tidak khusyu dalam shalat ialah jika kita banyak melakukan gerakan sia-sia dalam shalat. Sebagian umat Islam hampir tidak terelakan dari bencana ini, yakni melakukan gerakan yang tidak ada gunanya dalam shalat. Mereka tidak melupakan perintah Allah yang tersebut dalam firmanNYA:
Qs.Baqarah:238.Peliharalah SEMUA SHALAT , & shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu' .
Juga tidak memperhatikan firman Allah:
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. Orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,
QS.23 Al-Mukminuun: 1-2
Dinding Masjid Zaman Rasulullah Muhammad SAW masih terdiri dari tanah liat kering saja, sedangkan Lantai Masjid di zaman Rasulullah Muhammad SAW masih hanya berupa tanah saja.
Suatu saat, Rasulullah Muhammad SAW ditanya tentang hukum
meratakan tanah ketika sujud. Beliau menjawab:
“Jangan engkau mengusap ketika engkau dalam keadaan shalat. Jika terpaksa harus melakukannya, maka cukup sekali meratakan kerikil.” HR. Abu Dawud, 11/581. HR. Muslim
Para Ulama menyebutkan, banyak gerakan secara berturut-turut tanpa dibutuhkan dapat membatalkan shalat. Apalagi orang yang melakukan pekerjaan yang tidak ada gunanya dalam shalat. Berdiri di hadapan Allah sambil melihat jam tangan, membetulkan pakaian yang tidak membuka aurat, memasukkan jari ke dalam hidung, melempar lirikan ke kanan kiri atau ke atas langit. Ia tidak takut kalau-kalau Allah mencabut penglihatannya atau setan melalaikannya dari ibadah shalat.
Diantara tabiat manusia yang tergesa-gesa dan tidak Thuma’ninah dalam shalat ialah mendahului imam dalam shalat.
,,, dan ialah manusia bersifat tergesa-gesa. Qs.Isra’:11
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan dalam As-Sunan Al-Kubra, 10/104, dan juga dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, Hadits No. 1795, menuliskan bahwa:
“Pelan-pelan ialah dari Allah, dan tergesa-gesa ialah dari Setan.”
Dalam Shalat jamaah, sering kita menyaksikan di kanan kirinya banyak sekali orang yang mendahului imam dalam semua gerakan. Mungkin belum tahu ilmunya, atau tidak disadari itu pun terjadi pada banyak diantara kita.
Perbuatan yang sekarang dianggap remeh oleh umat Muslim di zaman ini, justru oleh Rasulullah Muhammad SAW malah diperingatkan dan diancam keras dalam sabda beliau:
“Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan merubah kepalanya menjadi kepala keledai?” HR. Muslim, 1/320-321
Jika orang yang hendak melakukan shalat dituntut untuk mendatanginya dengan tenang, maka dalam shalat pun diharuskan dalam keadaan tenang pula dan tidak tergesa-gesa.
Namun melambatkan gerakan setelah imam pun dilarang, yang tepat menurut para fuqaha’ telah menyebutkan kaidah yang baik dalam hal ini ialah MAKMUM TIDAK BERGERAK SEBELUM IMAM SELESAI BERPINDAH GERAKAN SHALAT, NAMUN HENDAKNYA MAKMUM SEGERA BERGERAK BEGITU IMAM SELESAI MENGUCAPKAN TAKBIR & SELESAI BERPINDAH GERAKAN & BENAR-BENAR PADA POSISI GERAKAN SHALAT SELANJUTNYA .
Ketika imam selesai melafadzkan huruf RO’ dari kalimat Takbir ALLAAHU AKBAR, maka saat itulah makmum harus segera mengikuti gerakan imam, tidak mendahului dari batasan tersebut atau mengakhirkannya. Maka batasannya menjadi jelas.
Dahulu para sahabat sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Rasulullah Muhammad SAW, salah seorang sahabat bernama Al-Bara’ bin Azib berkata:
“Sungguh mereka (para sahabat) shalat dibelakan Rasulullah Muhammad SAW, maka jika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk (dan para sahabat juga mengangkat kepala mereka), saya tidak melihat seorang sahabat pun yang memulai gerakan untuk membungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah Muhammad SAW meletakkan keningnya di atas lantai, baru orang-orang yang berada di belakangnya memulai bergerak untuk bersimpuh sujud.” HR. Muslim No. 474
Ketika Rasulullah Muhammad SAW mulai uzur dan geraknya tampak pelan, beliau mengingatkan orang-orang yang shalat dibelakangnya:
“Wahai sekalian manusia, sungguh aku telah lanjut usia, maka janganlah kalian mendahuluiku dalam rukuk dan sujud.” HR. Baihaqi, 2/93 dan Hadits ini dihasankan dalam Irwa’ Al-Ghalil
Dalam shalatnya, imam hendaknya melakukan sunnah dalam takbir, yakni sebagaimana disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
“Jika Rasulullah Muhammad SAW berdiri untuk shalat, beliau bertakbir ketika berdiri, kemudian bertakbir ketika rukuk, kemudian bertakbir ketika turun (hendak sujud), kemudian takbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian bertakbir ketika sujud, kemudian bertakbir ketika mengangkat kepalanya, demikian beliau lakukan dalam semua shalatnya sampai selesai dan bertakbir ketika bangkit dari dua (rakaat) setelah duduk (tasyahud pertama).” HR. Bukhari No 756
Jika imam menjadikan takbirnya bersamaan dan beriringan dengan gerakannya, sedang makmum memperhatikan dengan memperhatikan ketentuan dan cara mengikuti imam, sebagaimana disebutkan di muka, maka jamaah dalam shalat tersebut menjadi sempurna.
Dan kita pun tidak akan mencapai Thuma’ninah jika kita masih melirik ke kanan kiri atau atas. Dalam sebuah Hadits:
Dari Abu Dzar RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah Muhammad SAW bersabda: “Allah senantiasa menghadap kepada hamba-NYA saat hamba mengerjakan shalat selama dia tidak menoleh. Maka apabila dia menolehkan wajahnya (tidak khusyu), maka Allah pun berpaling darinya.” HR. Ahmad 5/172
Sekian kiranya 4 TIPS yang kami perhatikan, kami admin www.islamterbukti benar.net memohon maaf jika ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak.
Setiap kebaikan, termasuk memegang erat shalat, akan dibalas:
QS.7 Al-A’raaf:170. Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al kitab serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena Sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang Mengadakan perbaikan.
Selain 4 tips itu, disarankan pula agar:
# Berdoa sebelum shalat, mohon lindungan ALLAH dari godaan syaithon
# Membunuh Egois & Sombong dalam diri
# Tiada daya & upaya melainkan milik Allah semata
Qs.6 Al-An'aam:42 ... supaya mereka memohon dengan tunduk merendahkan diri.
Hilangkan rasa sombong pada diri, jangan berfikir selain shalat, hilangkan apa yang telah dan akan kita lakukan. Bunuhlah semua yang berhubungan dengan aktivity di dunia, fokus hanya pada ALLAH & arti bacaan shalat. Menyadari dosa yang telah lalu
Dan lebih afdhol jika Dzuhur, Ashar & Isya' berdzikir pendek. Lalu Shalat Fajar & Maghrib berdzikir panjang.
Apa tanda seseorang menikmati shalat?
Rasulullah Muhammad SAW pernah ditanya: “Ya Rasul, shalat bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yang panjang kekhusyukannya.” HR. Muslim 756, Tirmidzi 387, DLL
Seperti yang telah kita ketahui, Rasulullah Muhammad SAW ialah orang yang paling bersyukur atas karunia Allah, saat Rasulullah Muhammad SAW telah dijamin kesalahannya diampuni, beliau bukan lantas kendur beribadah, malah shalat hingga kakinya bengkak. Dalam suatu Hadits diceritakan, seorang sahabat melihat Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan shalat di masjid sendirian, kemudian sahabat berdiri ikut shalat menjadi makmum.
Rasulullah kemudian membaca surat Al-Baqarah sampai selesai, sahabat mengira Rasulullah Muhammad SAW akan melanjutkan dengan rukuk, tapi ternyata Rasulullah Muhammad SAW melanjutkannya dengan membaca Surat Ali Imran hingga selesai.
Sahabat ini mengira Rasulullah Muhammad SAW akan melanjutkannya dengan rukuk, tapi ternyata Rasulullah Muhammad SAW melanjutkannya dengan membaca surat An-Nisaa’ hingga akhir ayat.
Kemudian sahabat mengira Rasulullah Muhammad SAW akan melanjutkannya dengan rukuk, tapi ternyata Rasulullah Muhammad SAW melanjutkan bacaannya dengan surat Al-Mai’dah.
Sahabat ini tidak tahan lagi, membatalkan shalat dan berlalu sedang Rasulullah Muhammad SAW masih dalam keadaan shalat Rakaat pertama.
Perhatikan betapa Rasulullah Muhammad SAW menikmati & hanyut dalam bacaan yang begitu panjang. Dan jika kita ingin demikian, tentu hal pertama yang harus kita lakukan ialah paham arti bacaan yang kita baca, atau minimal tajwid dan suara yang merdu didengar.
Kami pernah beberapa menjadi makmum dibelakang imam yang berasal dari Saudi, dan bacaannya terasa enak didengar, sejuk dihati & jiwa meski suratnya agak panjang, dan justru serasa kurang dan ingin lagi, Subhanallah.
Hal lain yang kita ambil dari Hadits diatas ialah diperbolehkan membaca banyak surat dalam 1 rakaat. Jika Rasululllah Membaca dengan 5 surat panjang-panjang di awal Qur’an, maka ada baiknya kita meniru beliau membaca 5 surat tapi dari bagian belakang, surat yang pendek-pendek, syukur jika bisa bervariasi.
Hal ini tentu saja saat kita shalat sunnah sendirian, karena dalam shalat jamaah dianjurkan memendekkan bacaan karena dalam shalat berjamaah terdapat orang tua, anak-anak, wanita hamil dan orang sakit yang kurang kuat berdiri lama-lama.
Apa tanda shalat diterima?
,,, Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji & mungkar,,, Qs. 29 Al-'Ankabuut: 45
QS.70 Al-Ma’aarij:19. Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.
20. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,
21. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir,
Dari ayat diatas, salah satu tanda shalat yang baik ialah membuat manusia tidak mengeluh dan berkesah saat diberi cobaan beruba musibah, dan tidak kikir saat diberi cobaan berupa rezeki atau kebaikan lainnya.
Jika kita sudah paham arti bacaan shalat, dibaca dengan Thuma’ninah, meyakini bahwa kita dapat mati setiap saat & segala perbuatan akan dibalas, meresap di hati, MENSUCIKAN JIWA KITA... maka insya Allah Shalat kita dapat mencegah kita dari perbuatan keji & mungkar… Amiin...