Donnerstag, 19. September 2013

QS 24:30






 

 قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ

 لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: 
"Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".

Sonntag, 15. September 2013

Nasehat dari Alm. Kiai Ahmad Dahlan

 


Kita Manusia ini, hidup di Dunia hanya sekali buat bertaruh. Sesudah Mati, akan mendapat kebahagiaankah atau kesengsaraan?
Lengah, kalau sampai terlanjur terus menerus lengah, tentu akan Sengsara di Dunia dan Akhirat. Maka dari itu jangan sampai lengah dan kita harus berhati-hati. Sedangkan Orang mencari kemuliaan di dunia saja. Kalau hanya seenaknya tidak sungguh sungguh tidaklah akan Berhasil. Lebih-lebih mencari keselamatan, kemuliaan akhirat. Kalau hanya seenaknya sungguh tidak akan berhasil.

Mula-mula Agama Islam itu cemerlang, kemudian makin Suram, tetapi sesungguhnya yang suram itu adalah Manusianya, bukanlah Agama-Nya. Agama adalah bukan barang yang kasar, yang harus dimasukkan ke dalam telinga, tetapi agama Islam adalah agama fitrah (suci). Artinya ajaran yang mencocoki kesucian manusia. Sesungguhnya agama bukanlah agama lahir yang dapat di lihat. Amal lahirnya itu adalah bekas dan daya dari ruh agama.

Kelak anak-anak kita akan tersebar bukan saja di seluruh Indonesia, kemungkinan juga di seluruh Dunia. Dan bukan saja di butuhkan karena keahliannya atau untuk menuntut Ilmu Pengetahuan, tetapi juga karena hubungan pernikahan.

Menghayati Alqur'an dan Hadist itu dengan hati, Kadang orang itu terpeleset bukan karena ia bodoh, tapi karena ia dikuasai Akalnya saja

Agama Islam itu adalah Agama Rahmatan lil alamin, Merahmati siapa yang bernaung dibawah-Nya.

Pemimpin yang baik di mata Allah SWT tidak akan pernah meninggalkan keluarganya apalagi umatnya

Saya tidak menyederhanakan Islam, saya tidak melarang Tahlilan dan Yasinan, tiap surah dalam Alqur'an ada bagiannya masing masing, tapi tidak untuk dikultuskan,
kalau kita hanya membaca yasin terus menerus ditambah sekaligus dengan upacara-upacara, saya khawatir akan menyingkirkan makna surah-surah yang lainnya, dalam hal Tahlil,

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk berdzikir mengingat Asma Allah SWT, tapi apakah Rasul menyuruh kita untuk melakukannya bersama sama? 

Apalagi bersuara keras sampai mengganggu tetangga,

Kamu pelankan atau keraskan suaramu, sesungguhnya Allah SWT, Maha mengetahui segala isi hati manusia 

**Admin :
“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam doamu dan jgn pula merendahkannya. Carilah jalan tengah di antara keduanya” (QS. Al-Israa’ : 110). Dan yang dimaksud dgn ayat ini adalah doa”.


Agama Islam tertutup bagi  orang islam itu sendiri, Islam semakin jauh dari orang Islam itu sendiri, karena dipahami secara dangkal sumber dari Syaikh Muhammad Ab

Kalau kita tahu apa yang kita lakukan benar, kita tidak akan pernah belajar
 
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula dalam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
 
Kita boleh punya prinsip, asal jangan Fanatik, karena Fanatik itu ciri Orang Bodoh.

Sebagai orang Islam kita harus tunjukkan kalau kita bisa bekerjasama pada siapapun, asal Lakum Diinukum Waliyadiin, bagi Mu Agama Mu, bagi Ku Agama Ku

Hidup hidup kan lah Dakwah Agama Islam, asal jangan mencari Hidup dari mendakwahkan agama kita Islam, luruskan niat Mu dalam berdakwah, nasehat menasehati demi Kebenaran dan Kesabaran karena Allah SWT untuk mendapatkan ridha-Nya, ini Penting

Saya tidak tahu harus berbuat apa, bahkan saya tidak tahu apa yang harus saya katakan, kalau tidak berkenan berkata, tidak perlu dipaksakan, sesama muslim kita ini Bersaudara, sesama saudara Kita harus saling mengingatkan

Kadang manusia lebih memilih melindungi kewibawaanya, daripada bertanya untuk apa sebenarnya kewibawaan yang dia punya itu bagi dirinya

Ketika kita memimpin orang lain, kita lupa bertanya, bahwa kita, apakah sudah mampu memimpin diri kita sendiri ???????

Setiap Manusia, mempunyai Hak untuk menjadi Benar, kebenaran ada ditangan Allah SWT, Manusia seperti Kita hanya berusaha, Kita sama sama belajar untuk menjadi yang terbaik di Mata Allah SWT, tidak hanya untuk kepentingan Diri Sendiri, tapi untuk kepentingan Orang yang Banyak
Agama (Khususnya agama Islam) itu bukan rangkaian aturan-aturan yang bisa dipermudah atau dipersulit,
Agama itu sebuah Proses, 
seperti udara pagi yang kita hirup secara perlahan lahan ke tubuh kita, menyegarkan hati dan pikiran kita,

bayangkan yang kita hirup itu angin puting beliung, tubuh kita tidak hanya hancur, tapi terhempas, tak berdaya, terbawa arus tak tentu arah,

lalu apakah kita rela, melihat umat kita berserakan dan lari menjauh dari agama Islam, hanya karena kita salah memberikan pengertian?

Yang penting pikiran kita terbuka.

(KH. Ahmad Dahlan, keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo). 
Semoga Bermanfaat.

N.b. : Ana mendapatkannya dari sumber di atas, dan sayangnya ana belum bisa mengklarifikasi sendiri apakah benar KH Ahmad Dahlan sendiri yang menyampaikan hal ini.
Jika terbukti salah tolong kabari ana secepatnya. Tapi setidaknya nasehat ini bermanfaat

Samstag, 14. September 2013

Malu dan Memalukan

 sumber :

 

Salah satu sifat yang mesti dimiliki oleh setiap muslim adalah malu, yakni malu bila melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya. Hal ini karena, bila kita dan anggota masyarakat lainnya telah memiliki rasa malu seperti ini, maka tidak akan ada penyimpangan yang dilakukan, termasuk terhadap ketentuan baik yang telah disepakati sesama manusia. Begitu penting sifat malu sehingga hal ini menjadi salah satu cabang yang tidak bisa dipisahkan dengan iman. Ini berarti keimanan seseorang perlu kita pertanyakan apabila pada dirinya tidak ada perasaan malu. 

Rasulullah Saw bersabda: Malu itu cabang dari iman” (HR. Bukhari).

 

TIGA BENTUK MALU

Dalam kehidupan manusia, paling tidak malu dapat dibagi menjadi tiga bagian yang saling berkaitan. Pertama, malu kepada diri sendiri, yakni malu kepada martabat pribadi dengan segala kedudukan, gelar atau sebutan yang kita sandang, sebagai apapun kita. Kalau kita disebut muslim, itu berarti kita seharusnya menjadi orang yang tunduk dan patuh kepada Allah Swt dengan segala ketentuan-Nya dan kita sangat malu bila tidak bisa tunduk kepada Allah. Bila kita disebut suami, tentu seharusnya kita malu manakala melakukan hubungan seksual dengan wanita yang bukan isteri kita. Bila kita disebut bapak, seharusnya kita punya perasaan malu bila tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak kita. Bila kita menjadi pejabat atau pemimpin, maka kita malu bila tidak bisa memberi pelayanan yang terbaik kepada orang yang kita pimpin, bahkan bila kita diberi amanat, maka kita akan sangat malu bila mengkhianatinya, begitulah seterusnya. Dengan kata lain, bila kita memiliki rasa malu terhadap diri kita sendiri, maka kita akan selalu menjaga nama baik atau citra diri sehingga kita tidak akan merusaknya. Karena itu, orang yang tidak memiliki rasa malu terhadap dirinya sendiri harus diwaspadai, sebab kalau ia telah merusak citra dirinya sendiri, sangat mungkin baginya untuk merusak citra orang lain, citra organisasi, bahkan citra negara .

Malu pada diri sendiri sangat mendasar, karena meski orang lain tidak tahu bila penyimpangan dilakukannya, ia justeru menjadi saksi atas dirinya sendiri terhadap penyimpangan yang dilakukan, bahkan siap membeberkan kesalahan itu dihadapan Allah Swt sebagaimana terdapat dalam firman-Nya: Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS 36:65).

 

Kedua, malu kepada orang lain, yakni malu bila kesalahan yang dilakukan diketahui oleh orang lain, karenanya daripada kesalahan atau dosa yang dilakukan diketahui oleh orang lain, ia merasa lebih baik tidak melakukannya. Bukan malah ia lakukan dosa tapi ia menjadi malu bila hal itu diketahui oleh orang lain lalu berusaha menyembunyikan kesalahannya itu dengan berbagai cara meskipun dengan melakukan kesalahan-kesalahan berikutnya, ini merupakan sesuatu sangat berbahaya. Orang seperti ini akan mengalami kegelisahan jiwa sehingga hal ini akan membawa pengaruh yang negatif bila seseorang menjalani kehidupan dalam kondisi jiwa yang gelisah. Suami dan bapak yang gelisah tentu sangat berbahaya bagi keluarganya, apalagi bila anggota legislatif dan pemimpin yang gelisah, maka hal itu akan mempengaruhi orang-orang yang dipimpinnya. Rasulullah Saw bersabda: Dosa adalah sesuatu yang menggelisahkan hati seseorang, ia tidak setuju bila hal itu diketahui oleh orang lain (HR. Ahmad).

Disamping itu, seseorang yang malu atas dosa yang dilakukannya tapi tetap berbuat dosa adalah membahayakan orang lain, ia tidak segan-segan membunuh orang yang membongkar aibnya itu dan dalam kehidupan berjamaah bisa jadi ia akan menyingkirkan orang-orang yang memiliki idealisme.

 

Bentuk malu yang Ketiga adalah malu kepada Allah Swt, yakni malu karena ia sudah mengakui Allah Swt sebagai Tuhannya, tapi berani melanggar ketentuan Allah dengan anggapan Allah tidak mengetahuinya, padahal sebenarnya Allah Swt Maha Tahu terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, Allah berfirman: Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui banyak tentang apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu prasangkamu yang telah kamu duga terhadap Tuhanmu. Prasangka itu telah membinasakan kamu, maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi (QS 41:22-23).

Untuk itulah, setiap muslim harus memiliki sifat malu kepada Allah yang sebenar-benarnya, malu yang ditunjukkan dimana saja, kapan saja dan dalam situasi serta kondisi yang bagaimanapun juga, bukan hanya malu untuk menyimpang ketika berada di masjid dan sejenisnya, tapi seseorang tidak malu-malu untuk melakukan penyimpangan di pasar, di kantor dan sebagainya, Rasulullah Saw bersabda: Malulah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar malu (HR. Tirmidzi).

 

JANGAN MEMALUKAN

Orang yang memiliki sifat malu tentu tidak akan bersikap dan bertindak yang memalukan, baik memalukan dirinya, keluarganya, jamaahnya hingga bangsanya. Sikap dan tindakan yang memalukan adalah bila bertentangan dengan nilai-nilai idealisme yang selama ini justeru diperjuangan. Ketika “Bersih dan Peduli” menjadi semboyan perjuangan untuk memperoleh kursi dan kekuasaan, lalu hal itu sudah diperoleh tapi ternyata tidak bersih dan tidak peduli terhadap kepentingan dakwah dalam arti yang luas yakni tegaknya nilai-nilai kebenaran Islami, maka hal ini menjadi akan sangat memalukan, bahkan menjadi beban sejarah yang amat berat untuk dipikul serta menjadi trauma dalam upaya menegakkan nilai-nilai kebersihan dan kepedulian itu.

Bila kita masih memiliki sifat malu tentu kita tidak akan melakukan hal-hal yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan bila terlanjur salah, maka orang yang malu akan mau mengakui kesalahan itu dan menjatuhkan hukuman kepada yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahan, bukan malah melindungi, menutup-nutupi apalagi bersekongkol dalam kesalahan. Namun bila rasa malu ini sudah tidak lagi dimiliki oleh manusia, ia bisa melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya, dalam satu hadits yang berasal dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr Al Anshari Al Badri dinyatakan: Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah dikenal orang dari ungkapan kenabian yang pertama adalah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendak hatimu (HR. Bukhari).

Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk selalu memperkokoh rasa malu, karena tidak ada kejelekan sedikitpun dari sifat malu ini sehingga Rasulullah Saw bersabda: Malu itu seluruhnya baik (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, menjadi penting bagi kita untuk terus memantapkan rasa malu dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim sehingga aktivitas kita selalu mengarah pada kebaikan dan memberi manfaat yang besar bagi orang lain.


Sonntag, 8. September 2013

QS 6 : 70

 

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا

 “ Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main main dan sendau gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia “.


( QS. Al An’am : 70).



Masalah Perkara Syubhat...





Bismillah, di ahad pagi ini lagi pengen share salahsatu hadits favorit ana nih.. 

Dari Abdullah Nu'man bin Basyir RA,
dia berkata : 'Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda : 

"Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.

Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak.

Maka siapa yang takut terhadap syubhat berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.

 Dan siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan.

Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang dilarang untuk memasuki nya, maka lambat laun dia akan memasukinya.

 Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan.

 Ketahuilah bahwa dalam diri ini terdapat segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh ini dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh, ketahuilah bahwa dia adalah Hati".


(HR. Bukhari-Muslim)

Freitag, 6. September 2013

Sekilas tentang Jihad. Bukan Teror Keji di tempat umum !



 Okay, ini cukup simpel dan gak terlalu perpanjang kalam. Karena sumber yang ana ambil dari buku2 karya vbi_djenggotten *buku komik sih*. Dan salahsatu nya berjudul " 5 Pesan Damai "
Bismillah sekilas aja nih tentang Jihad. Dan bukan Terorisme yang MENGATASNAMAKAN Jihad.
Dalam Fiqh Jihad, dituliskan beberapa tingkatan Jihad yang di jelaskan oleh Ibnu Al-Qayyim berdasarkan dalil - dalil syar'i.
Secara garis besar, Jihad terdiri dari 4 tingkatan, yaitu : 

1.Jihad terhadap hawa nafsu
a. Melakukan jihad terhadap diri untuk mempelajari kebaikan, petunjuk, dan agama yang benar
b. Berjihad terhadap diri untuk mengamalkan ilmu yang sudah didapat
c. Berjihad terhadap diri untuk mendakwahkan dan mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang belum mengetahuinya
d. Berjihad dengan kesabaran ketika mengalami  kesulitan dan siksaan dari makhluk dalam berdakwah di jalan Allah dan menanggung semuanya dengan hanya mengharap ridha Allah SWT

2. Jihad melawan godaan setan
a. Berjihad melawan setan dengan membuang segala kebimbangan dan keraguan dalam keimanan seorang hamba yang diberikan olehnya
b. Berjihad melawan setan dengan menangkis keinginan berbuat kerusakan dan memenuhi syahwat yang diberikan olehnya

3. Jihad melawan Orang Kafir & Munafik
a. Jihad dengan menggunakan Hati
b. Jihad dengan menggunakan Lidah (Dakwah)
c. Jihad dengan menggunakan Harta
d. Jihad dengan menggunakan Jiwa

4. Jihad melawan Kedzaliman dan Kefasikan 
a. Jihad dengan kekuatan jika memiliki kemampuan untuk melakukannya
b. Jihad dengan menggunakan Lisan (Dakwah)
c. Berjihad dengan Hati, bila belum mampu berjihad dengan kekuatan dan lisan ☺


Jihad adalah ketika seorang muslim mencurahkan usahanya untuk melawan keburukan dan kebatilan.

Dimulai dengan jihad terhadap keburukan yang ada di dalam dirinya dalam bentuk godaan setan,

dilanjutkan dengan melawan keburukan di sekitar masyarakat,

dan berakhir dengan melawan keburukan di mana pun, seusai dengan kemampuan.

-Yusuf Qardhawi, dalam Fiqih Jihad-

Jadi, yang harus selalu diingat tentang jihad adalah

Bahwa tujuan utama Jihad adalah untuk menegakkan kalimat Allah,

bukanlah untuk berperang atau membuat medan peperangan.

Sedangkan perang itu sendiri adalah salah satu cara yang digunakan dalam berjihad


Pentingnya Bidang Media Dan Komputer Dalam Jihad. Semua Orang bisa Berjihad!

berikut ini saya ambil dari blog berikut :  
http://img1.eramuslim.com/fckfiles/image/palestina/bleeding-hand.jpg

Syekh Izuddin Ar Roshofi-rahimahullah-dalam bukunya yang berjudul “Jihadnya Orang Yang Tidak Hadir Dalam Jihad” menjelaskan betapa pentingnya bidang media dan komputer dalam jihad.
Dalam buku tersebut beliau mengatakan, ‘berusahalah mempelajari tata cara proses komputer dan bagaimana cara menjaganya, serta segala yang engkau mampu dari ilmu di bidang komputer. Dan jadikanlah niatmu dalam hal itu adalah untuk jihad fisabilillah dan membela agamanya. Pelajarilah segala yang berkaitan dengan situs–situs internet dalam membuat web, membangun forum (situs) dan korespondensi melalui e-mail. Begitu juga tata cara menghancurkan situs–situs yang menyerang Islam, dan hal–hal yang berkenaan dengan pembuatan film–film, bagaimana tata cara menggunakan alat perekam gambar dan memproduksi film–film, hingga cara meng-upload (mengunggah) ke internet dan situs–situs jihad, mengcopy dalam bentuk lembaran–lembaran, cd, dan kaset–kaset. Bekerja dengan cara wajar dan ini adalah yang paling dibutuhkan oleh pasukan media para Mujahidin pada hari ini.
 
Tentara Garis Kedua Bagi Jihad
Hal penting dalam buku karya Syekh Izuddin ini adalah penjelasan tentang peran serta orang yang tidak hadir dalam jihad dalam membantu di garis depan, khususnya dalam bidang media.
Syekh Izuddin menjelaskan, ‘Setelah kita menyempurnakan latihan dan persiapan yang berkaitan dengan mujahadatun nafs dan wilayah pengaruhnya (keluarga dan teman), maka tibalah waktunya sekarang masuk ke dalam medan perang. Medan perang kali ini tidak biasa sebagaimana perang–perang sebelumnya, jangan engkau bayangkan terjadi baris pemisah antara dua pasukan. Perang hari ini telah berkelompok–kelompok menjadi 3 dimensi saling menyerang dan tidak ada batas akhirnya, dan barisan peperangan melawan musuh menjadi beraneka ragam dan banyak sekali. Terkadang terjadi di medan perang di atas tanah, dan terkadang terjadi di salah satu medan, dan terkadang terjadi di salah satu saluran televisi, dan terkadang terjadi di situs–situs internet.
Terkadang terjadi pada sebuah buku, makalah atau saluran telepon dalam salah satu acara televisi, dan semuanya mendapatkan pahala. Berdasarkan hal ini maka sesungguhnya medan jihad hari ini menjadi dapat dipenuhi oleh orang–orang yang dekat maupun yang jauh, bagi orang–orang yang tidak dimudahkan baginya jalan masuk menuju medan jihad sebenarnya, atau berhubungan dengan para pemimpin–pemimpin front yang telah membantu beberapa orang tertentu tidak masuk ke medan perang dan mereka tetap di luar sebagai pemasok logisitik. Maka wilayah batas negeri Islam (tsugur) menjadi banyak sekali. Tidak cukup hanya untuk memback up para pemanggul senjata, pembuat bom dan ranjau.
Jika para pemanggul senjata dan berperang dengan darahnya adalah Mujahidin yang paling utama dan dia berada di garis depan di medan perang, maka sesungguhnya garis depan ini memerlukan garis kedua agar ia terus berjalan dan berkembang. Sangat membutuhkan orang yang memberikan bantuannya dengan harta, kata–kata dan segala hal yang dapat memperpanjang jihadnya dan menambah keteguhannya. Dan setiap orang yang melakukan pekerjaan itu kita namakan dengan garis kedua bagi jihad.
 
Oleh karena itu kami katakan : jika bagimu belum ada kesempatan menjadi yang berada di garis depan dalam jihad dan engkau belum mampu berhijroh ke medan perang, maka janganlah engkau mengharamkan dirimu sendiri untuk menjadi para tentara garis kedua. Karena jihad melawan musuh tidak hanya sebatas memeranginya secara langsung.
 
Bagaimana Cara Untuk Berperan Serta?
Lalu apa saja peran dari garis kedua dan apa harapan kita agar kita dapat perbuat darinya? Syekh Izuddin menjelaskannya dengan gamblang. Beliau berkata, ‘Di garis kedua ini engkau bertanggungjawab untuk memenuhi apa saja yang dibutuhkan para Mujahidin, yang dapat memperpanjang keteguhan mereka dalam perang di garis depan (pertama).
Syekh Izuddin memberikan banyak contoh-contoh, diantaranya yang terkait bidang media adalah :
Membutuhkan orang–orang yang dapat membantu mereka (Mujahidin) dengan informasi-informasi tentang musuh mereka, bagaimana mereka bergerak, bagaimana mereka berpikir dan berencana.
Membutuhkan orang–orang yang menolong mereka dengan kata–kata, buku–buku, program–program, dan pena. Membutuhkan orang yang membantah pernyataan–pernyataan buruk yang mereka terima di berbagai sarana media massa.
Membutuhkan orang–orang yang menghubungi salah satu program atau berita TV, agar dapat membela para Mujahidin dengan kata–kata dan mencela para munafikin dan kaum kafir dengan kata–kata.
Membutuhkan orang–orang yang menyampaikan suara mereka kepada dunia, hingga dunia mendengar apa yang tidak disukai oleh musuh–musuh untuk mendengarnya.
Membutuhkan orang–orang yang menghembuskan isu–isu di barisan musuh dan menimbulkan perpecahan diantara mereka.
Membutuhkan orang–orang yang berdoa bagi mereka dengan kemenangan dan keteguhan di tengah malam sedangkan manusia tidur.
Dan masih banyak lagi yang lainnya. Jadi, maukah Antum sekalian berperan serta?
Tentang Jihad lebih dalam : Jihad?

Saya Pribadi Merasa Kasihan dengan Pemimpin yang Khianat terhadap Amanat

 

Dari Abu Hurairah R.A. , Dari Nabi SAW, sabdanya : 

"Sesungguhnya Imam (Pemimpin, Pembesar, atau Penguasa) itu bagaikan Perisai,

dimana orang berperang memakai perisai dan menjaga diri dengannya.

Jika Imam memerintahkan supaya Taqwa kepada Allah 'Azza wa Jalla dan berlaku adil, dia mendapat pahala karenanya

dan jika dia memerintahkan selain itu, maka dia mendapat siksa". 

(H.R. Muslim)

Dari Abdul Malih R.A. katanya : 

'Ubaidullah bin Ziyad mengunjungi Ma'qil bin Yasar ketika sakit. Kata Ma'qil kepada Ubaidullah,

"Aku hendak menyampaikan sebuah hadits kepadamu, seandainya aku tidak hampir mati, niscaya hadits ini belum akan kusampaikan kepadamu, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 

"Tidak seorang pun Amir (Pembesar, Penguasa, atau Pemimpin) yang menguasai atau memerintah kaum muslimin,

tetapi dia tidak berjuang dengan sungguh-sungguh dan tidak memberikan pengarahan untuk kemakmuran mereka,

niscaya Allah tidak membolehkannya masuk Surga bersama-sama dengan mereka".


(H.R. Muslim)


Dari kedua hadits diatas sudah jelas lah bahwa betapa pentingnya menjadi seorang Pemimpin yang amanat dan betapa beratnya amanat yang ditanggung yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT kelak.
Lantas? Haruskah kita menghindar jadi pemimpin umat? Jangan salah! Kita wajib jadi pemimpin umat. Dimulai dari menjadi pemimpin untuk diri sendiri. Bukankah setiap orang adalah pemimpin untuk dirinya sendiri? 

Hadits Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah saw bersabda :
“Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Seorang amir yang mengurus keadaan rakyat adalah pemimpin. Ia akan dimintai pertanggungjawaban tentang rakyatnya.
Seorang laki-laki adalah pemimpin terhadap keluarganya di rumahnya.
Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya. Ia akan diminta pertanggungjawaban tentang hal mereka itu.
Seorang hamba adalah pemimpin terhadap harta benda tuannya, ia kan diminta pertanggungjawaban tentang harta tuannya.
Ketahuilah, kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya"
Menjadi pemimpin untuk diri sendiri dimulai dari memimpin diri sendiri untuk membiasakan shalat 5 waktu di masjid [ khususnya buat laki-laki :) ] dan tepat waktu, tapi dicek dulu, selama ini shalat kita sudah khusyu' belum? kualitas nya bagaimana? Ini nih 4 tips shalat khusyu'
 kalau masalah shalat udah? selanjutnya masalah2 lain yang menyangkut setiap kecil aspek kehidupan dalam diri kita. Dan kalau ana bahas disini insya Allah gak bakal selesai dan anta pasti capek bacanya hehe :D
Dan yang paling penting jangan lupa untuk selalu menasihati diri sendiri. Penting Loh!

browsing-browsing sendiri ya tapi ingat gak semua dari internet itu benar. Harus tetap di filter ya setiap info yang anta baca. Jangan mudah percaya dengan selain Al-Qur'an dan Sunnah!
Sayang banget ya... Padahal kalau para pemimpin itu tau, betapa tidak pentingnya 'sampah dunia' bila dibandingkan dengan akhirat. 

Dari Mustaurid bin Syaddad RA., Ia berkata : Rasulullah SAW. bersabda : 
" Perbandingan antara dunia dan akhirat tidak lain seperti seseorang dari kalian yang mencelupkan jarinya ke dalam laut. Silakan dia melihat seberapa banyak air yang menempel di jarinya saat dia mencabutnya dari laut". 
(H.R. Muslim)
 Kebayang kan ? Betapa kontrasnya hari-hari kita di Oasis Persinggahan ini? Bila dibandingkan dengan Hari-Hari Akhirat yang sangat panjang? 
Sayang sekali para pemimpin itu lebih memilih dunia dibandingkan akhirat, mereka tersilaukan oleh fatamorgana dunia, membiarkan diri mereka terjebak dalam gelimang harta dan kemewahan yang membuat mereka lalai terhadap kewajiban dan rakyatnya. Banyak orang merasa mampu menjadi pemimpin atau pejabat, padahal, tanggungjawab nya berat.
Tahukah anda sekalian? Bahwa golongan para Pemimpin yang Adil merupakan salahsatu golongan yang mendapat naungan dari Allah SWT di yaumil akhir kelak. Dimana pada HARI itu, tidak ada lagi naungan lain kecuali dari Allah SWT. Dan sungguh sayang, mereka mengabaikan peluang emas alias golden ticket mereka dalam mendapat naungan dari Allah Azza wa Jalla.

Semoga negeri ini dikembalikan keberkahannya, diberikan hidayah kepada para pemimpin dan pejabat yang masih bermewah-mewahan dan mengabaikan rakyatnya.
Semoga masyarakat Indonesia sadar bahwa mereka tidak tahu tentang akan hal ini, dan berusaha mencari tahu. 
Entahlah mungkin ini hanya sekedar opini saja dari ana...
bitte korigieren mich, wenn ich falsch bin..... :)
 

Pidato Abu Bakar RA Ketika diangkat Menjadi Pemimpin Setelah Rasulullah



Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya,

untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah tegurlah aku.

 

Sifat jujur itu adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan.

 

'Orang lemah' di antara kalian aku pandang kuat posisinya di  sisiku dan aku akan melindungi hak-haknya.

'Orang kuat'di antara kalian aku pandang lemah posisinya di sisiku dan aku akan mengambil hak-hak yang mereka peroleh dengan jalan yang jahat untuk aku kembalikan kepada yang berhak menerimanya.

 

Patuhlah kalian kepadaku selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya.

 

Jika aku durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk mematuhiku.

Donnerstag, 5. September 2013

Jadikan Iman Sebagai Nyawa Kehidupan

 



air hujan

Dr Aidh bin abdullah Al qarni, meresepkan kepada kita 30 point untuk menjadikan hidup bahagia dalam dua dimensi yakni bahagia dunia dan juga akhirat kelak.
Berikut ini adalah alah satunya , yaitu adalah  kita harus mempunyai iman sebagai “nyawa’ bagi kehidupan setiap kita. Orang yang benar-benar celaka adalah orang yang sama sekali tidak punya simpanan iman, tidak punya bekal keyakinan. Mereka selamanya akan berada dalam kebencian dan murka Allah serta dalam kehinaan dan kerendahan
“ dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku.. maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dlam keadaan buta (QS Thaha :124).
Tidak ada yang dapat menggembirakan , membersihkan, mengobarkan semangat, menyenangkan, menghilangkan kegundahan, kegelisahan dan kecemasan jiwa selain iman kepada Allah Robb (pemelihara)  Semesta alam. Pada dasarnya , tidak adasumber makanan bagi hidup ini selain iman.

Jika iman telah hilang

Maka tidak ada lagi hidup

Tidak ada dunia bagi orang

Yang tak menghidupkan agamanya

Cara terbaik yang dapat dilakukan orang-orang yang kafir , jika memang mereka tidak mau beriman, hanyalah bunuh diri agar diri mereka dapat terhindar penjara, belenggu, kegelapan dan bencana ini. Betapa celakanya yang memiliki hidup tanpa iman.
Betapa buruknya yang mengantongi laknat abadi, engkau memang berhak dimiliki oleh orang-orang yang keluar dari jalan hidup Allah yang ditetapkan di muka bumi ini .

“ Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al Qur’an) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat (QS Al An'am: 110)
Tibalah  saatnya bagi seorang yang alim untuk benar-benar qanaah dan beriman bahwa tidak ada Tuhan yang hak disembah selain Allah. Setelah melewati percobaan panjang dan melelahkan di masa silam, Setelah mengalami percobaan inilah, akal dapat menerima bahwa berhala yang mereka sembah hanyalah legenda, kekafiran yang mereka jalani akan berujung laknat, pembangkangan hanyalah kebohongan, para Rasulullah yang benar, Allah-lah yang haq. Dialah yang memiliki kerajaan, Dialah yang memeiliki segala puja-puji . Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Tergantung kuat dan lemahnya iman andalah, tergantung panas  dan dinginnya keyakinan anda, seperti itulah kebahagiaan yang akan dapat anda rasakan, kepuasaan yang Anda nikmati dan ketentraman yang anda enyam.
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan seseungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan (QS AN Nahl : 97)
Semua ini dilakukan karena mereka ridha jika Allah menajdi Tuhan mereka, Islam sebagi agama mereka, Muhammad SAW , sebagai Nabi dan rasul mereka. -Lr-

 sumber : eramuslim

Mana Masa Terbaikmu, Berikan ke Islam !!!



Ana jadi ingat akan salah satu nasyid dari Izzatul Islam yang berjudul Kami Harus Kembali.
Walau tertatih kami berjalan
Susuri bukit lembah dan hutan
bukan karna takut kami berlari
dengan asma Allah ... kami akan kembali

berbekal iman yang paling utama
mujahid maju songsong senjata
pasukan Allah akan membela
mereka atau kami binasa
bergelar syuhada ... hidup dijalan mulia
sumber
***

Hari ini kita melihat jumlah pemuda muslim yang telah beriltizam (Multazim) untuk Islam yang banyak sekali, sampai sampai kita bisa melihat di satu kota, ada ratusan ikhwah disana ! meski jumlah mereka luar biasa, namun jika anda mencoba untuk menghitung jumlah personal yang aktif, bersungguh sungguh, dan penuh semangat sehingga layak disebut aktifis Islam, niscaya anda akan mendapati jumlah mereka tidak mencapai seratus orang. Bahkan anda dapat menghitung dengan mudah dan menyebutkan nama nama mereka.
Lalu mana kerja, usaha, dan sumbangsih sekian ribu Multazim itu?! Mana dakwah, hisbah dan jihad mereka?

Mereka mengambil peran sebagai penonton, tak lebih. Mereka merasa cukup sekedar telah berpindah dari jahiliyah kepada Islam. Setelah itu, mereka berhenti dititik ini, tidak ingin meninggalkannya, tidak berhasrat untuk meningkat ke titik berikutnya, bahkan untuk sekedar mempersiapkan diri mereka sendiri hingga nantinya mereka sanggup melangkah dan memberikan sumbangsih dalam pelbagai bidang amal Islami.

Jika salah seorang anda tanyakan, apa sumbangsih mereka kepada Islam, apa amal yang yang telah mereka kerjakan di jalan dien ini, dan apa yang telah mereka persembahkan kepada jamaah sejak mereka beriltizam sampai hari ini, mereka pun diam seribu bahasa.

Kita dapati mereka merasa cukup dengan menjadi pendengar saja, mereka merasa sudah cukup menghadiri halaqoh pengajian, pertemuan , seminar, membaca edaran, bulletin, dan sudah.
Atau menjadi seorang yang pasif tanpa sumbangsih.

Dilihat dari sisi amal Islami manapun, mereka tetap menjadi sosok yang benar benar tidak serius dalam mempersiapkan diri.

Problem seperti inilah yang membuat tidak tergalinya berbagai potensi untuk Islam dan din. Potensi yang semestinya tampak nyatadi semua bidang amal Islami, dakwah dan jihad.

Orang orang yang hanya menyumbangkan sisa waktu, membelanjakan sedikit sekali dari kekayaan, serta mengerahkan upaya yang sangat minim untuk Islam ini mestinya tahu bahwa Allah itu Maha Baik, tidak menerima kecuali yang baik, sebagaimana Allah tidak menerima sedekah yang buruk, jika itu sengaja dipilih untuk Islam.

“Dan janganlah kamu memilih sesuatu yang buruk buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya
(Al Baqarah:276)
Sesungguhnya yang dikehendaki oleh Islam adalah sebagian besar waktumu, hampir seluruh hartamu, dan segarnya masa mudamu, Islam menghendaki dirimu, seluruhnya. Islam menghendaki saat kamu bertenaga, bukan saat sudah lemah. Islam menghendaki masa mudamu, masa kuatmu, masa perkasamu, dan bukan masa rentamu. Islam menghendaki semua yang terbaik, termulia dan teragung darimu.

 ---------------------------------

Mari Kita bersama-sama menghidupkan Islam, berusaha mengembalikan tatanan kehidupan Islamiyah dalam setiap aspek kehidupan kita se-kecil apapun.

Insya Allah ini bagian dari Jihad kita untuk diri kita sendiri dan lingkungan sekitar kita.

Dilema di antara Dua Cinta?





 ... " Islam adalah agama yang mendasari ajarannya dengan realitas, bukan agama yang didasarkan pada khayalan dan ilusi. Ia tidak menafikan adanya perasaan saling mencintai antar manusia, sebab itu adalah fitrah manusia. Secara naluri kita mencintai istri, keluarga, harta dan tempat tinggal.
Akan tetapi tidak sepatutnya sesuatu yang bersifat duniawi ini lebih ia cenderungi dan cintai dibanding ALLAH dan Rasul-Nya. Jika ia lebih mencintainya, berarti tidak sempurna imannya. Ia harus berusaha menyempurnakannya. "

***
Super sekali teman-teman!
Sangat super! Sepotong paragraf yang menurut ana pribadi simple, tapi cukup mengena!
Nah disini yang jadi pertanyaannya adalah bagaimana kita mengetahui bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih kita cintai daripada segala sesuatu di dunia ini?
berikut ana ambil dari website berikut :

Kecintaan pada Allah ialah terbukti dari ketaatannya menjalankan perintah & menjauhi larangan tanpa paksaan, ia terbukti pula dari pengorbanannya pada Islam, baik berupa tenaga, fikiran, waktu, harta, jiwa, raga dan bahkan nyawa.

Bangun pagi yang dipikirkan ialah umat & Islam
Akan tidur yang dipikirkan ialah bagaimana Islam dapat bangkit
Saat ada waktu luang yang dipikirkan ialah permasalahan umat
Ingin sekali semua orang beriman & berislam secara kaffah

Ingin sekali semua orang selamat dari neraka
Sedih melihat kanan kirinya diadzab gempa karena bermaksiat
Sendu melihat saudaranya Islam keturunan belum shaleh / shaliha
Pilu menyaksikan saudara lain murtad menjadi kafir
Saat akan tidur pun dia niatkan sebagai istirahat untuk menghimpun kembali tenaga dalam berjuang dijalan-NYA



Mittwoch, 4. September 2013

Jangan Puji Saya di Depan Umum!


nah, oke jadi ana mau cerita sedikit pengalaman pribadi di suatu gerbong kereta dan di suatu waktu tapi ini realita bukanlah fiksi ataupun berita yang dibuat-buat (?). Dan please bgt ini bukan bermaksud sombong.
Ketika itu ana lagi tilawatil qur'an biasa dengan mushaf kecil pemberian dari ibu ana, dan itu sudah ia gunakan sejak dia kuliah dan alhamdulillah masih bagus walaupun banyak halaman yang sudah tercoret-coret pulpen (mungkin karena ana yang masih kecil :p).
Kereta pagi yang berdesak-desakan dan itu bagi ana adalah hal yang sudah biasa. Oke ketika sedang baca, tangan kanan yang memegang mushaf terasa pegal dan ingin ganti tangan, tangan kiri pegang mushaf, tangan kanan pegang handel kereta. Di selang waktu sesaat itu, seorang bapak yang posisi tepat di samping ana tiba-tiba menyapa, " Assalamu'alaikum saudaraku". Okay, sontak ana kaget tapi dalam posisi kekagetan itu ana jawab salam nya dengan tenang. Mengetahui kebimbangan ana, dia langsung melanjutkan kalimatnya, "alhamdulilah, kalian masih muda, bagus itu, bagus. Selama perjalanan kereta daripada bengong aja gak ngapa-ngapain lebih bagus baca qur'an alhamdulillah, kalaupun juga gak baca qur'an dalam hati berdzikir. Senantiasa berdzikir setiap saat.Alhamdulillah bagus itu. Pertahankan terus ya. Jangan pernah merasa gak enak sama saudara kita yang lainnya ketika kita baca qur'an"
"Ya pak, amin insya Allah" (saking bingungnya antara takut dan berusaha relax)
"Kita juga baik nya dari rumah sebelum berangkat berwudhu terlebih dahulu, sehingga, dari awal perjalanan ruhiah kita sudah bersih, suci, selama perjalanan berdzikir atau mengaji pun juga bagus. Bagus itu. Pertahankan ya."
und so weiter percakapan kami, walaupun lebih banyak ana yang di ceramahi, tapi alhamdulillah ana dapat menangkap maksud bapak tersebut.
Dan qadarullah, kami turun di stasiun yang sama, kami pun turun dan di antara keramaian itu kami berpisah.

***

Ketika di posisi itu, ana sebetulnya merasa canggung dan sedikit takut.

1. Ana takut karena orang ini sok kenal sok dekat dan langsung memasuki zona nyaman ana dalam bersosialisasi. Ternyata ana masih di pengaruhi oleh skeptisme media media indonesia dimana Islam extremis adalah hal yang asing dan kesannya terorisme. (Dan jujur ana mikirnya takut di hipnotis di saat itu. *Oke dosa lagi nambah dengan su'udzan* )

2. Ana agak merasa gak enak dengan orang-orang di sekitar yang notabene banyak dan bapak tersebut bicara dengan suara yang normal. Tidak direndahkan. Dan ana langsung jadi pusat perhatian sekitar, dan itu.. tidak terbiasa dengannya.

3. Ana bersyukur di satu sisi karena ternyata nasehat atau suatu pelajaran di pagi hari dari orang yang gak ana kenal sebagaimana hadits berikut :
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya:  “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)

4. Na ja, di satu sisi juga ana merasa banget bahwa di situ ana konteksnya mirip dipuji. Dan itu gak enak banget. Jujur. Saya lebih memilih di doakan kebaikan satu kali secara rahasia dibandingkan dipuji 10.000x .
Dari Abu Musa RA. katanya :
Nabi SAW mendengar seorang laki-laki memuji laki-laki lain dan berlebihan dalam pujiannya. Beliau bersabda : "Kamu membinasakannya dan memotong punggung orang itu"
(H.R. Bukhari)

Jadi jelas banget kalau pujian berlebihan itu membahayakan, tapi ana gak tau disini termasuk berlebihan atau biasa. Tapi yang jelas di depan umum sangat tidak nyaman sekali.
Wallahu'alam bisshawwab.