nah, oke jadi ana mau cerita sedikit pengalaman pribadi di suatu gerbong kereta dan di suatu waktu tapi ini realita bukanlah fiksi ataupun berita yang dibuat-buat (?). Dan please bgt ini bukan bermaksud sombong.
Ketika itu ana lagi tilawatil qur'an biasa dengan mushaf kecil pemberian dari ibu ana, dan itu sudah ia gunakan sejak dia kuliah dan alhamdulillah masih bagus walaupun banyak halaman yang sudah tercoret-coret pulpen (mungkin karena ana yang masih kecil :p).
Kereta pagi yang berdesak-desakan dan itu bagi ana adalah hal yang sudah biasa. Oke ketika sedang baca, tangan kanan yang memegang mushaf terasa pegal dan ingin ganti tangan, tangan kiri pegang mushaf, tangan kanan pegang handel kereta. Di selang waktu sesaat itu, seorang bapak yang posisi tepat di samping ana tiba-tiba menyapa, " Assalamu'alaikum saudaraku". Okay, sontak ana kaget tapi dalam posisi kekagetan itu ana jawab salam nya dengan tenang. Mengetahui kebimbangan ana, dia langsung melanjutkan kalimatnya, "alhamdulilah, kalian masih muda, bagus itu, bagus. Selama perjalanan kereta daripada bengong aja gak ngapa-ngapain lebih bagus baca qur'an alhamdulillah, kalaupun juga gak baca qur'an dalam hati berdzikir. Senantiasa berdzikir setiap saat.Alhamdulillah bagus itu. Pertahankan terus ya. Jangan pernah merasa gak enak sama saudara kita yang lainnya ketika kita baca qur'an"
"Ya pak, amin insya Allah" (saking bingungnya antara takut dan berusaha relax)
"Kita juga baik nya dari rumah sebelum berangkat berwudhu terlebih dahulu, sehingga, dari awal perjalanan ruhiah kita sudah bersih, suci, selama perjalanan berdzikir atau mengaji pun juga bagus. Bagus itu. Pertahankan ya."
und so weiter percakapan kami, walaupun lebih banyak ana yang di ceramahi, tapi alhamdulillah ana dapat menangkap maksud bapak tersebut.
Dan qadarullah, kami turun di stasiun yang sama, kami pun turun dan di antara keramaian itu kami berpisah.
***
Ketika di posisi itu, ana sebetulnya merasa canggung dan sedikit takut.
1. Ana takut karena orang ini sok kenal sok dekat dan langsung memasuki zona nyaman ana dalam bersosialisasi. Ternyata ana masih di pengaruhi oleh skeptisme media media indonesia dimana Islam extremis adalah hal yang asing dan kesannya terorisme. (Dan jujur ana mikirnya takut di hipnotis di saat itu. *Oke dosa lagi nambah dengan su'udzan* )
2. Ana agak merasa gak enak dengan orang-orang di sekitar yang notabene banyak dan bapak tersebut bicara dengan suara yang normal. Tidak direndahkan. Dan ana langsung jadi pusat perhatian sekitar, dan itu.. tidak terbiasa dengannya.
3. Ana bersyukur di satu sisi karena ternyata nasehat atau suatu pelajaran di pagi hari dari orang yang gak ana kenal sebagaimana hadits berikut :
“Agama adalah nasihat”. Kami bertanya: “Bagi siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bagi Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum muslim dan bagi kaum muslim secara umum.” (HR. Muslim)
4. Na ja, di satu sisi juga ana merasa banget bahwa di situ ana konteksnya mirip dipuji. Dan itu gak enak banget. Jujur. Saya lebih memilih di doakan kebaikan satu kali secara rahasia dibandingkan dipuji 10.000x .
Dari Abu Musa RA. katanya :
Nabi SAW mendengar seorang laki-laki memuji laki-laki lain dan berlebihan dalam pujiannya. Beliau bersabda : "Kamu membinasakannya dan memotong punggung orang itu"
(H.R. Bukhari)
Jadi jelas banget kalau pujian berlebihan itu membahayakan, tapi ana gak tau disini termasuk berlebihan atau biasa. Tapi yang jelas di depan umum sangat tidak nyaman sekali.
Wallahu'alam bisshawwab.

Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen