sumber: islampos

“Masa kenabian itu ada di tengah-tengah kalian, adanya atas
kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki
untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang
mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah), adanya atas
kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki
untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit
(Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah
mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah
itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas
kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki
untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj an-nubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam,” (H.R Ahmad).
INILAH babak keempat era akhir zaman yang sudah disebutkan oleh Nabi
Muhammad SAW. Yaitu kehidupan di bawah kepemimpinan Mulkan Jabriyyan
alias para penguasa yang memaksakan kehendak atau para diktator. Babak
ini diawali dengan berakhirnya babak ketiga yaitu babak kepemimpinan
Mulkan Aadhdhon atau para pemimpin yang menggigit. Yang dimaksud dengan
para pemimpin yang menggigit ialah para khalifah Islam yang memimpin
khilafah Islamiyyah sejak Kerajaan Daulat Umayyah lalu Daulat Abbasiyyah
kemudian Kesultanan Turki Usmani yang dalam literatur Barat Eropa
disebut The Ottoman Empire. Total masa berlangsungnya babak ketiga
mencapai kurang lebih empat belas abad.
Ketika masih hidup di babak ketiga umat Islam memiliki para pemimpin
yang dijuluki para khalifah namun dalam mekanisme suksesinya menggunakan
pola kerajaan yang mewarisi kepemimpinan berdasarkan garis keturunan
keluarga. Atau sistem oligarkhi. Namun para raja tersebut masih
”menggigit Al-Qur’an dan As-Sunnah” sehingga Nabi menjuluki mereka
sebagai para Mulkan Aadhdhon atau Raja-raja yang Menggigit. Berbeda
dengan babak sebelumnya yaitu babak kepemimpinan Khulafa Ar-Rasyidin
yang ”menggenggam Al-Qur’an dan As-Sunnah”, maka ibarat mendaki bukit
tentu lebih pasti dan aman menggenggam tali sampai puncak bukit
daripada menggigitnya.
Oleh karenanya kita dapati pada babak ketiga terkadang ada ditemukan
khalifah yang adil-bijaksana seperti Umar bin Abdul Aziz, namun pada
babak yang sama ada juga yang berwatak kejam seperti Abul Baqa’ Al-Qaim
Biamrillah di Mesir.
Betapapun banyaknya catatan atas babak ketiga, namun pada babak
tersebut umat Islam masih memiliki sistem khilafah sebagai tatanan
formal kehidupan bernegara. Hukum yang diberlakukan masih hukum Allah.
Sedangkan sesudah itu umat bukan saja hidup di bawah kepemimpinan para
Mulkan Jabriyyan yang merupakan para diktator bermasalah secara
personal, tetapi juga bermasalah secara sistem.
Belum pernah umat Islam hidup tanpa naungan Khilafah Islamiyyah
seperti yang dialami dewasa ini. Keadaan umat Islam dewasa ini mirip
seperti keadaan Nabi dan para sahabat saat berjuang di Mekkah sebelum
hijrah ke Madinah. Mereka mengalami pengusiran dari rumah, penganiayaan,
penyiksaan, pemboikotan bahkan pembunuhan. Sedemikian hebatnya
penderitaan yang dialami, sehingga sempat sahabat Khabab bin Arat
datang dan mengeluh di hadapan Nabi. Apa jawaban Nabi saat itu?
“Ada seseorang dahulu yang ditanam badannya ke dalam bumi hingga
sebatas lehernya lalu kepalanya digergaji sehingga terbelah dua namun
hal itu tidak menghalanginya dari tetap beragama. Kemudian disisir
dengan besi sehingga terkelupas dagingnya dan tampaklah tulangnya namun
hal itu tidak menghalanginya dari tetap beragama. Demi Allah, sungguh
urusan ini akan disempurnakan sehingga seorang pengembara berjalan dari
San’a hingga Hadramaut tidak merasa takut kepada apapun selain Allah
atau srigala yang menerkam gembalanya. Akan tetapi kalian
tergesa-gesa…!” (HR Bukhari 3343).
Apa yang kita alami dewasa ini merupakan sunnatullah. Ini merupakan
suatu cara bagi Allah untuk menyeleksi siapa di antara orang-orang yang
mengaku beriman memang sungguh-sungguh beriman. Allah tidak berkenan
memberikan kemenangan bagi umat Islam sebelum mereka mengalami penempaan
yang semestinya. Bersabarlah. Jangan mengira bahwa sikap diam dan
seolah tidak berbuat merupakan sikap pasif dan mengalah..! Jangan kira
bahwa mereka yang menghiasi media-massa berlomba merebut panggung
kekuasaan merupakan fihak yang paling berjasa bagi perjuangan umat dan
perubahan sosial.
Pada tahap ini yang diperlukan adalah orang-orang beriman yang mampu
menahan diri sambil terus membina pribadi dan keluarganya serta umat di
sekelilingnya bersiap-siaga menghadapi masa-masa kritis peralihan dari
babak keempat menuju babak kelima. Peralihan dari babak kepemimpinan
Mulkan Jabriyyan menuju tegaknya kembali Khilafatun ’ala Minhaj
An-Nubuwwah. Suatu bentuk peralihan yang seringkali digambarkan sebagai
fase Huru-Hara Akhir Zaman. Suatu peralihan yang sudah barang tentu
tidak akan dilalui seperti berjalan di taman bunga dan permadani mewah.
Suatu peralihan yang sangat boleh jadi menuntut tertumpahnya tetesan
airmata dan darah.
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat
luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat
luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami
pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan
supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang
kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada.
Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS Ali Imran ayat
139-140) [disarikan dari tausiyah ust. Ihsan Tandjung]
Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen